a Catholic Church
† Sint Unum †
a Catholic Church
Tetap Setia di Tengah Penolakan
(Renungan Kamis, 29 Oktober 2026, Luk 13:31-35)
Dalam kehidupan, tidak semua niat baik mendapat sambutan yang baik. Ada kalanya seseorang sudah berusaha membantu, tetapi justru disalahpahami. Ada yang berusaha mendamaikan, tetapi malah dianggap ikut campur. Dalam situasi seperti itu, muncul godaan untuk berhenti berbuat baik. Untuk apa berusaha kalau akhirnya tidak dihargai?
Dalam Injil hari ini, Yesus mendapat peringatan bahwa Herodes hendak membunuh-Nya. Namun, Yesus tidak membiarkan ancaman itu menghentikan perutusan-Nya. Ia tetap melanjutkan karya-Nya: mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang sakit. Yesus tahu bahwa perjalanan-Nya tidak mudah, tetapi Ia tetap setia pada tugas yang dipercayakan Bapa kepada-Nya.
Yang menyentuh adalah ketika Yesus berbicara tentang Yerusalem. Ia mengungkapkan kerinduan-Nya untuk mengumpulkan anak-anak Yerusalem seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya. Gambaran ini menunjukkan hati Yesus yang penuh kasih dan perlindungan. Namun, Ia juga menyadari bahwa Yerusalem tidak selalu bersedia menerima-Nya. Betapa besar kasih-Nya, tetapi betapa sering kasih itu ditolak.
Kisah ini mengingatkan bahwa kasih sejati tidak selalu berjalan bersama penerimaan atau penghargaan. Ada kalanya orang yang mengasihi justru mengalami penolakan. Orang tua yang menasihati anaknya bisa disalahpahami. Seseorang yang berusaha memperbaiki hubungan bisa tidak mendapat tanggapan. Orang yang memilih kejujuran mungkin kehilangan keuntungan. Namun, penolakan tidak selalu berarti bahwa usaha untuk berbuat baik itu sia-sia.
Tentu, tetap setia bukan berarti memaksakan kehendak atau terus bertahan dalam situasi yang membahayakan. Yesus sendiri menghadapi ancaman dengan kesadaran akan waktu dan perutusan-Nya. Kita pun perlu bertindak dengan bijaksana. Namun, selama sesuatu yang dilakukan sungguh membawa kebaikan dan sesuai dengan kehendak Tuhan, janganlah mudah menyerah hanya karena tidak mendapat sambutan.
Yesus tetap mengasihi Yerusalem, bahkan ketika Yerusalem menolak-Nya. Di sinilah kita belajar bahwa kesetiaan tidak diukur dari seberapa cepat orang lain berubah, melainkan dari kesediaan kita untuk tetap melakukan yang baik dengan hati yang tulus.
Jangan biarkan penolakan membuat kita kehilangan kasih. Tetaplah berbuat baik dengan bijaksana, sebab kesetiaan tidak selalu membutuhkan tepuk tangan.
Pertanyaan Refleksi:
Pernahkah saya merasa lelah berbuat baik karena tidak dihargai atau disalahpahami? Bagaimana saya dapat tetap setia pada kasih dan kebenaran tanpa memaksakan kehendak kepada orang lain?


