Iman yang Membuat Tuhan Takjub
(Renungan Sabtu, 27 Juni 2026 – Mat 8:5-17)
Dalam Injil hari ini, seorang perwira Romawi datang kepada Yesus memohon kesembuhan bagi hambanya yang sedang sakit. Yang menarik, ia tidak meminta Yesus datang ke rumahnya. Ia justru berkata:
“Tuhan, aku tidak layak menerima Tuhan di dalam rumahku; katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”
Mendengar itu, Yesus takjub. Jarang sekali Injil mencatat bahwa Yesus merasa takjub. Yang membuat-Nya takjub bukanlah kekayaan, kedudukan, atau pengetahuan agama seseorang, melainkan iman yang sederhana dan mendalam.
Perwira itu percaya bahwa kuasa Yesus tidak dibatasi oleh jarak. Ia percaya bahwa satu sabda Yesus sudah cukup untuk mengubah keadaan.
Sering kali kita berdoa, tetapi dalam hati masih dipenuhi keraguan. Kita datang kepada Tuhan, tetapi diam-diam lebih percaya pada kekuatan kita sendiri. Perwira Romawi mengajarkan bahwa iman sejati bukanlah memahami semuanya, melainkan mempercayakan semuanya kepada Tuhan.
Menariknya, perwira itu tidak datang untuk dirinya sendiri, melainkan untuk hambanya. Ia peduli pada orang yang mungkin dianggap kecil dan tidak penting oleh masyarakat. Iman yang sejati ternyata selalu berjalan bersama kasih dan kepedulian kepada sesama.
Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Ketika menghadapi kesulitan, apakah saya lebih banyak dikuasai oleh kekhawatiran atau oleh kepercayaan kepada Tuhan?
Semoga kita memiliki iman seperti perwira Romawi: rendah hati, penuh kasih, dan percaya bahwa satu sabda Tuhan sanggup mengubah hidup kita.




