PANDUAN BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2026

 

 YESUS GURU YANG PENUH KUASA

    Wajah Yesus dalam Injil Matius

Bulan Kitab Suci Nasional 2026

Sejalan dengan Penanggalan Liturgi Gereja Katolik yang setiap Tahun A terutama menampilkan Injil Matius sebagai bacaan Injil dalam perayaan Ekaristi hari Minggu Masa Biasa, Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) tahun 2026 pun menjadikan Injil Matius sebagai sorotan dan materi pembelajaran bersama. Tema yang diangkat dalam BKSN tahun ini adalah Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius. Bersama-sama, kita diajak untuk mengenal Yesus sebagai seorang guru dan mendengarkan ajaran-ajaran-Nya yang menghadirkan pencerahan, membangun kepribadian, menyegarkan jiwa, menghibur segala kesedih-an, serta membangun hidup kita menjadi lebih baik. Suatu keuntungan bahwa kita semua telah mendengarkan bacaan-bacaan dari Injil Matius sejak awal tahun ini, sehingga perikop-perikop yang akan kita dalami ki-ranya sudah akrab dan tidak asing di telinga kita.

Dari lima kumpulan pengajaran Yesus dalam Injil Matius, empat di antaranya kita pilih untuk kita bahas bersama, sesuai dengan perte-muan-pertemuan BKSN yang biasanya berlangsung empat kali. Setiap kumpulan pengajaran akan diwakili oleh satu perikop. Berikut ini adalah tema dari masing-masing pertemuan, serta perikop-perikop yang dipilih-kan bagi kita:

  • Pertemuan 1: Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Sejati (Mat. 5:1-12).
  • Pertemuan 2: Pengajaran Yesus tentang Tugas Perutusan Para Murid (Mat. 10:1-15).
  • Pertemuan 3: Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman (Mat. 18:15-20).
  • Pertemuan 4: Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal (Mat. 25:31-46).

Di hadapan Yesus, guru kita bersama, mari kita duduk dan men-dengarkan ajaran-ajaran-Nya yang penuh kuasa, seperti yang diperintah-kan Bapa, “Inilah Anak-Ku yang terkasih. Dengarkanlah Dia” (Mat. 17:5). Semoga kita diberi-Nya karunia untuk mengerti, sehingga apa yang di-ajarkan-Nya meresap dalam hati kita, mengubah hidup kita, dan berbuah berlipat ganda, seperti yang disabdakan-Nya sendiri, “Yang ditaburkan di tanah yang baik artinya orang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (Mat. 13:23).

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan 1 PENGAJARAN YESUS TENTANG

HIDUP YANG SEJATI

(Matius 5:1-12)

 

Tujuan: Agar peserta memperbarui hidup mereka sebagai orang Kristen dan sebagai murid-murid Kristus yang sejati.

Gagasan Pokok: Pertemuan ini mengajak kita untuk mendengarkan Ye-sus sebagai guru yang menunjukkan makna hidup yang sejati. Melalui sabda-sabda bahagia (Mat. 5:1-12), Yesus berbicara ke dalam realitas hidup kita hari ini yang penuh dengan tekanan dalam bekerja, kecemasan akan masa depan, tuntutan ekonomi keluarga, relasi yang rumit, serta rasa lelah dan kecewa menghadapi dunia yang terasa tidak adil. Di tengah semuanya itu, Yesus menawarkan jalan yang tampak sederhana tetapi radikal, yakni bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada harta, jabatan, prestasi, atau pengakuan sosial, tetapi pada sikap hati yang terbuka kepada Allah dan sesama. Sabda-sabda bahagia menjadi dasar seluruh ajaran Yesus ten-tang kemuridan, sebab di sanalah kita diajak untuk membangun hidup dari dalam. Kita diajak untuk menjadi rendah hati, berbelaskasihan, haus akan kebenaran, dan setia meski harus menanggung risiko. Pertemuan ini menolong kita untuk merefleksikan pengalaman hidup konkret kita dan menata ulang arah hidup kita sebagai murid Kristus, agar iman sungguh menjadi sumber kekuatan, harapan, dan kebahagiaan yang nyata dalam keseharian kita.

 

DOA MOHON KEHADIRAN TUHAN

Lagu Pembuka

Tanda Salib dan Salam Kata Pengantar

Saudara-saudari terkasih, kita kembali memasuki Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tema BKSN tahun ini adalah: Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius. Bersama-sama, kita akan mendalami Injil Matius. Dalam pertemuan pertama ini, kita diajak un-tuk mendengarkan Yesus, guru yang penuh kuasa, yang menyingkapkan

makna hidup yang sejati melalui sabda-sabda bahagia. Di tengah tan-tangan hidup akibat tekanan dalam bekerja, masalah keluarga, dan situ-asi dunia yang sering membingungkan, Yesus mengundang kita untuk menempuh jalan kebahagiaan yang lahir dari pembaruan hati. Sabda-sabda bahagia menuntun kita untuk menjadi murid Kristus yang sejati, yang hidup dari iman, belas kasihan, dan kesetiaan. Mari kita membuka hati, mendengarkan Dia, dan memulai pertemuan ini dengan doa.

Doa Pembuka

Allah Bapa yang Mahakuasa dan Mahakasih, kami bersyukur karena Engkau senantiasa menyertai perjalanan hidup kami. Pada awal Bulan Kitab Suci Nasional 2026 ini, kami berkumpul untuk mendengar-kan Yesus, Putra-Mu terkasih, guru yang penuh kuasa. Bukalah hati dan budi kami, agar melalui sabda-sabda bahagia, kami dimampukan mem-perbarui sikap hidup, menata kembali arah langkah kami, dan bertum-buh sebagai murid Kristus yang sejati. Semoga firman-Mu menjadi sum-ber kekuatan, harapan, dan kebahagiaan kami dalam hidup sehari-hari. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa ber-sama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

PEMBACAAN TEKS KITAB SUCI

Pemandu atau peserta membacakan Matius 5:1-12 dengan jelas, lantang, dan tidak tergesa-gesa. Setelah itu, peserta diberi kesempatan untuk mem-baca sendiri.

Matius 5:1-12

1Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 2Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya,

3“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. 4Berbahagialah orang yang ber-dukacita, karena mereka akan dihibur. 5Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 6Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 7Berba-hagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan. 8Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan

melihat Allah. 9Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mere-ka akan disebut anak-anak Allah. 10Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. 11Ber-bahagialah kamu, jika karena Aku orang mencela dan menganiaya kamu, serta menujukan segala fitnah kepadamu. 12Bersukacita dan bergembi-ralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

MENDALAMI TEKS KITAB SUCI

Pertanyaan Pendalaman

Pemandu mengajak peserta mendalami Matius 5:1-12 dengan panduan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apa yang dilakukan Yesus saat melihat orang banyak dan murid-mu-rid-Nya datang? Lih. ay. 1-2.
  2. Mengapa orang yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, dan yang lapar serta haus akan kebenaran dise-but berbahagia oleh Yesus? Lih. ay. 3-6.
  3. Mengapa orang yang berbelaskasihan, yang suci hatinya, yang mem-bawa damai, dan yang dianiaya karena kebenaran disebut berbahagia oleh Yesus? Lih. ay. 7-10.
  4. Mengapa menjadi murid Yesus harus tetap bahagia meski dicela, di-aniaya, dan difitnah karena Dia? Lih. ay. 11-12.

Penjelasan Singkat dari Pemandu tentang Matius 5:1-12

  • Posisi teks dalam Injil Matius: Matius 5:1-12 berisi sabda-sabda ba-hagia yang membuka khotbah di bukit (Mat. 5 – 7). Khotbah di bukit adalah kumpulan pengajaran pertama dan paling mendasar dari Ye-sus tentang hidup sebagai murid-Nya.
  • Situasi pengajaran Yesus (ay. 1-2): Yesus naik ke atas bukit, duduk sebagai guru, sementara para murid dan orang banyak datang dan mendengarkan-Nya. Gambaran ini menampilkan Yesus sebagai Musa yang baru yang menyampaikan ajaran ilahi dengan kuasa-Nya
  • Fungsi sabda-sabda bahagia: Sabda-sabda bahagia menjadi peng-antar dan dasar bagi seluruh tuntutan radikal Yesus selanjutnya, se-perti menjadi garam dunia dan terang dunia, mengasihi musuh, ti-dak membalas kejahatan, dan sebagainya.
  • Isi delapan sabda bahagia (ay. 3-10): Yesus menyebut berbahagia orang yang miskin di hadapan Allah, orang yang berdukacita, orang yang lemah lembut, orang yang lapar dan haus akan kebenaran, orang yang berbelaskasihan, orang yang suci hati, orang yang mem-bawa damai, serta orang yang dianiaya karena Semuanya ini menekankan sikap batin yang bersandar pada Allah dan kehen-dak-Nya.
  • Makna kebahagiaan menurut Yesus: Kebahagiaan sejati tidak ber-asal dari keberhasilan lahiriah, tetapi dari hidup yang selaras dengan kehendak Allah dan terbuka pada kasih-Nya.
  • Sabda bahagia khusus bagi murid (ay. 11-12): Para murid disebut berbahagia ketika dicela dan dianiaya karena Yesus, sebab kesetiaan mereka akan berbuah upah besar di surga.
  • Pesan utama perikop: Sabda-sabda bahagia menggenapi hukum Taurat dengan menuntun manusia dari ketaatan lahiriah menuju pembaruan hati sebagai jalan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

SHARING IMAN

Pemandu mengajak peserta berbagi pengalaman hidup. Sharing tidak bo-leh menjadi bahan diskusi atau debat. Pertanyaan-pertanyaan sebagai ba-han sharing:

  1. Dalam hidup Anda, apa yang paling sering membuat Anda bahagia atau tidak bahagia?
  2. Dari sabda-sabda bahagia Yesus, manakah bagian yang paling me-nyentuh atau paling sulit Anda jalani? Apa alasannya?
  3. Dalam kehidupan sehari-hari, apa sikap yang ingin Anda lakukan agar selaras dengan ajaran Yesus tentang kebahagiaan?

PENEGUHAN DARI PEMANDU

Pemandu mendengarkan sharing peserta dan bisa mengutipnya untuk memberikan peneguhan. Lalu pemandu memberi peneguhan berdasarkan Matius 5:1-12.

Saudara-saudari terkasih, setelah kita mendalami teks dan men-sharingkan pengalaman kita masing-masing, sekarang marilah kita lihat beberapa poin berikut:

  • Sabda-sabda bahagia dalam Injil Matius tidak terutama berbicara tentang kemiskinan, penderitaan, atau kelaparan secara lahiriah, tetapi menyentuh sikap batin terdalam Melalui sabda-sab-da ini, Yesus mengajak kita untuk mengalami pembaruan hati dan membentuk kepribadian baru yang sesuai dengan identitas kita se-bagai umat Allah yang baru.
  • Yesus mengundang setiap orang tanpa kecuali, baik tua maupun muda, sederhana maupun berkecukupan, untuk hidup dengan si-kap rendah hati di hadapan Allah, peka terhadap penderitaan du-nia, lemah lembut, haus akan kebenaran, berbelaskasihan, berhati murni, membawa damai, dan setia pada kebenaran, meskipun harus menanggung risiko. Inilah ciri iman dan kasih sejati seorang murid
  • Sabda-sabda bahagia menjadi dasar untuk memahami tuntutan-tuntutan Yesus yang tampak berat dan radikal, seperti mengasihi musuh dan menolak kekerasan. Tuntutan ini bukanlah beban yang tidak masuk akal, melainkan panggilan untuk menjadi pribadi baru yang hidup menurut kehendak Allah, bukan menurut ukuran
  • Di tengah dunia yang dipenuhi egoisme, persaingan, dan ketidak-adilan, ajaran Yesus memberi kita alasan sejati untuk berbahagia. Kebahagiaan tidak berasal dari harta, jabatan, atau kekuasaan, tetapi dari hati yang sederhana dan yang percaya kepada penyelenggaraan
  • Teladan hidup Yesus sendiri meneguhkan kita: Ia hidup sederhana dan taat sepenuhnya kepada Dengan mengikuti-Nya, kita bela-jar bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari iman dan kepercayaan.
  • Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi orang-orang yang berbahagia karena Tuhan senantiasa menyertai dan mengasihi kita. Meskipun dunia sering mengabaikan kita, di mata Tuhan kita
  • Karena itu, marilah kita menjalani penziarahan hidup ini dengan rendah hati dan penuh kepercayaan, mengandalkan Tuhan dalam se-tiap situasi, dan memilih untuk berbahagia hari ini, apa pun keadaan yang kita hadapi.

DOA PERMOHONAN

Pemandu mengajak peserta berdoa secara spontan. Setelah itu, pemandu mengakhirinya dengan mengajak peserta bersama-sama mendoakan Bapa Kami.

 

RENCANA KEGIATAN ATAU AKSI

Pemandu mengajak peserta melakukan aksi untuk mewujudkan hidup se-jati sebagai murid Kristus. Beberapa contoh aksi yang bisa dilakukan:

  • Memilih satu sikap dari sabda-sabda bahagia (misalnya rendah hati, berbelaskasihan, atau membawa damai) untuk dihidupi secara sadar selama satu minggu.
  • Memilih dan mewujudkan sikap dari sabda-sabda bahagia dalam tin-dakan kecil dan nyata, misalnya menahan diri dari amarah, berdamai dengan seseorang, bersikap jujur meski merugikan diri, atau mem-beri perhatian pada orang yang biasanya diabaikan.
  • Meluangkan 3-5 menit di akhir hari untuk bertanya: Apakah hari ini saya sudah mencoba hidup menurut sabda bahagia yang saya pilih? Di mana saya gagal atau berhasil?
  • Mewujudkan sabda bahagia ke dalam relasi konkret: Sabda baha-gia tidak hanya dihidupi secara pribadi, tetapi juga dalam keluarga, tempat kerja, kampus, lingkungan, atau komunitas, terutama dalam situasi konflik, perbedaan, dan tekanan.
  • Menyerahkan diri kepada Tuhan dalam doa sederhana: Setiap hari, peserta diajak menutup refleksi dengan doa singkat, memohon ke-rendahan hati, kekuatan, dan kepercayaan pada penyelenggaraan Al-

PENUTUP

Pengumuman

 

Doa Penutup

Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas sabda-Mu yang telah kami dengarkan melalui pengajaran Yesus, guru yang penuh kuasa. Sabda-sabda bahagia meneguhkan kami untuk memperbarui sikap hati dan menata kembali cara hidup kami sebagai murid Kristus yang sejati. Utuslah kami untuk mewujudkan sabda-Mu dalam tindakan nyata de-ngan menjadi pribadi yang rendah hati, berbelaskasihan, dan pembawa damai di tengah dunia. Sertailah langkah kami agar dalam penziarahan hidup ini, kami setia mengandalkan Dikau dan berani memilih kebaha-giaan sejati. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

Lagu Penutup

 

Pertemuan 2 PENGAJARAN YESUS TENTANG

TUGAS PERUTUSAN PARA MURID

(Matius 10:1-15)

 

Tujuan: Agar peserta menjalankan tugas perutusan sebagai murid Yesus. Gagasan Pokok: Pertemuan ini mengajak peserta menyadari bahwa men-jadi murid Yesus berarti diutus untuk terlibat, bukan hanya menerima. Dalam Matius 10:1-15, Yesus berbelaskasihan terhadap orang-orang yang terluka, bingung, dan terabaikan. Karena itu, Ia memanggil dan mengutus para murid untuk melanjutkan karya-Nya. Setiap murid Yesus, termasuk kita, diutus untuk bersikap jujur, peduli, dan berani membela yang lemah. Perutusan itu hadir dalam kesetiaan, pelayanan di rumah dan lingkung-an, serta membangun relasi yang memulihkan. Yesus memberi kuasa dan arahan: Pergilah dengan sederhana, andalkanlah Allah, layanilah dengan hati, dan bersiaplah menghadapi penolakan tanpa kehilangan damai. Pada zaman sekarang ini, ketika banyak orang kehilangan arah dan keper-cayaan, setiap murid Yesus dipanggil menjadi tanda harapan. Pertemuan ini menolong peserta untuk menata ulang cara pandang: Perutusan bukan tugas segelintir orang, melainkan panggilan semua murid Kristus untuk pergi, bersaksi, dan melayani secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

DOA MOHON KEHADIRAN TUHAN

Lagu Pembuka

Tanda Salib dan Salam Kata Pengantar

Saudara-saudari terkasih, dalam pertemuan kedua ini, kita men-dengarkan Yesus, guru yang penuh kuasa, yang memanggil dan meng-utus para murid untuk ambil bagian dalam misi-Nya. Berangkat dari be-las kasihan Yesus kepada umat yang telantar, Injil Matius menegaskan bahwa perutusan lahir dari kepedulian dan keberanian untuk melayani. Di tengah dunia yang penuh kebingungan dan kebutuhan akan harapan, kita pun diutus untuk mewartakan Kerajaan Surga dengan sederhana, mengandalkan Allah, dan setia meski menghadapi tantangan. Mari kita

menyiapkan hati untuk mendengarkan Dia dan mengawali pertemuan ini dengan doa.

Doa Pembuka

Allah Bapa yang Mahakuasa dan Mahakasih, kami bersyukur karena Engkau berkenan memanggil kami untuk ambil bagian dalam karya keselamatan-Mu. Pada pertemuan ini, bukalah hati dan budi kami agar mampu mendengarkan Yesus, Putra-Mu terkasih, guru yang penuh kuasa, yang mengutus para murid untuk mewartakan Kerajaan Surga dan melayani sesama. Kuatkanlah kami dengan Roh-Mu agar berani menjalankan tugas perutusan dengan sederhana, setia, dan penuh kasih di tengah kehidupan sehari-hari. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau, dalam persatuan Roh Ku-dus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

PEMBACAAN TEKS KITAB SUCI

Pemandu atau peserta membacakan Matius 10:1-15 dengan jelas, lantang, dan tidak tergesa-gesa. Setelah itu, peserta diberi kesempatan untuk mem-baca sendiri.

Matius 10:1-15

1Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi mereka kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. 2Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, lalu Ya-kobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, 3Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, 4Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

5Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepa-da mereka, “Janganlah menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, 6melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. 7Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sur-ga sudah dekat. 8Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirlah orang yang sakit kulit; usirlah setan-setan. Kamu telah mem-perolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma.

9Janganlah membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. 10Janganlah membawa kantong perbekalan dalam per-jalanan, janganlah membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab

seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. 11Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sam-pai kamu berangkat. 12Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. 13Jika mereka layak menerimanya, salam damaimu itu turun ke atasnya, jika tidak, salam damaimu itu kembali kepadamu. 14Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkata-anmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. 15Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungan-nya daripada kota itu.”

MENDALAMI TEKS KITAB SUCI

Pertanyaan Pendalaman

Pemandu mengajak peserta mendalami Matius 10:1-15 dengan panduan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apa yang dilakukan Yesus terhadap kedua belas murid-Nya? ay. 1.
  2. Siapa nama rasul-rasul yang dipanggil dan diutus oleh Yesus? ay. 2-4.
  3. Kepada siapa dan ke mana Yesus mengutus para murid-Nya? ay. 5-6.
  4. Apa pesan utama yang harus mereka wartakan? ay. 7.
  5. Tindakan apa yang menyertai pewartaan para murid? ay. 8.
  6. Apa yang boleh dan tidak boleh dibawa sebagai bekal dalam men-jalankan tugas perutusan? Lih. ay. 9-10
  7. Apa yang harus dilakukan para murid ketika diterima atau ditolak? Lih. ay. 11-15.

Penjelasan Singkat dari Pemandu tentang Matius 10:1-15

  • Posisi perikop dalam Injil Matius: Matius 10:1-15 merupakan ba-gian awal dari khotbah pengutusan (Mat. 10), yakni kumpulan peng-ajaran Yesus yang kedua, yang berfokus pada tugas perutusan para
  • Pemanggilan dan pengutusan dua belas murid (ay. 1-4): Yesus memanggil dua belas murid dan memberi mereka kuasa untuk meng-usir roh jahat serta menyembuhkan segala penyakit. Angka dua be-las melambangkan kedua belas suku Israel, menandakan bahwa para murid menjadi Israel yang baru dan diutus untuk pemulihan umat
  • Kuasa yang diberikan Yesus: Kuasa yang diterima para murid sama dengan kuasa Yesus sendiri, menegaskan bahwa misi mereka adalah kelanjutan langsung dari misi Yesus.
  • Sasaran pengutusan (ay. 5-6): Para murid diutus pertama-tama kepada “domba-domba yang hilang dari umat Israel”, menunjukkan bahwa misi dimulai dari yang terdekat, sebelum kelak meluas ke se-gala
  • Isi pewartaan dan tindakan nyata (ay. 7-8): Para murid harus me-wartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat dan menghadirkannya melalui penyembuhan, pembebasan, dan pelayanan tanpa pamrih.
  • Sikap hidup dalam menjalankan tugas perutusan (ay. 9-10): Yesus melarang para murid membawa banyak bekal. Mereka diajak untuk percaya penuh pada penyelenggaraan Allah, dan sederhana dalam bermisi.
  • Sikap saat diterima atau ditolak (ay. 11-15): Jika diterima, para mu-rid diminta tinggal dengan setia dan membawa damai. Jika ditolak, mereka tidak perlu marah atau putus asa, tetapi hendaknya menye-rahkan semuanya kepada Allah.
  • Pesan utama perikop: Perutusan adalah panggilan untuk ambil bagian dalam misi Yesus dengan kuasa, kesederhanaan, kepercaya-an pada Allah, dan kesiapan menghadapi penolakan demi Kerajaan

SHARING IMAN

Peserta diajak berbagi pengalaman hidup. Sharing tidak boleh menjadi ba-han diskusi atau perdebatan. Pertanyaan-pertanyaan sebagai bahan sha-ring:

  1. Dalam kehidupan sehari-hari, di mana Anda merasa bahwa Tuhan mengutus Anda untuk hadir dan melayani?
  2. Apa pengalaman yang pernah Anda alami ketika mencoba berbuat baik atau bersaksi tentang iman, baik saat diterima maupun saat di-tolak?
  3. Apa sikap yang paling sulit Anda jalani dalam menjalankan tugas perutusan: Mengandalkan Tuhan, hidup sederhana, atau berani me-layani tanpa pamrih? Mengapa?

PENEGUHAN DARI PEMANDU

Pemandu mendengarkan sharing peserta dan bisa mengutipnya untuk memberikan peneguhan. Lalu pemandu memberi peneguhan berdasarkan Matius 10:1-15.

Setelah kita mendalami teks serta membagikan pengertian kita masing-masing, marilah kita lihat beberapa poin berikut:

  • Banyak orang masih mengira bahwa panggilan dan perutusan hanya milik para imam dan biarawan-biarawati. Pandangan ini membuat umat merasa bahwa mereka hanyalah penerima pelayanan, bukan pelaku
  • Sesungguhnya, melalui baptisan, kita semua menerima panggilan yang sama untuk ambil bagian dalam martabat Kristus sebagai nabi, imam, dan Karena itu, setiap orang beriman adalah murid yang dipanggil dan diutus oleh Yesus.
  • Situasi dunia dan masyarakat kita saat ini penuh keprihatinan: Ke-sulitan ekonomi, ketidakadilan, bencana, dan hilangnya harapan. Justru dalam situasi seperti inilah misi para murid menjadi sangat
  • Sebagai murid Yesus, kita dipanggil menjadi garam dan Kita dipanggil untuk menghadirkan kebaikan di tengah dunia yang tawar dan gelap, serta membawa kabar baik bagi mereka yang letih, ke-cewa, dan terluka.
  • Perutusan kita tidak harus dilakukan dengan cara yang Setiap orang diutus sesuai keadaan dan situasi hidupnya, baik dalam ke-luarga, pekerjaan, kampus, atau lingkungan, dengan bakat dan ke-mampuan yang dimiliki oleh kita masing-masing.
  • Mewartakan Injil dan menyembuhkan sesama tidak selalu berarti berkhotbah atau menyembuhkan secara fisik, tetapi juga melalui berbagai tindakan nyata, misalnya menolong yang membutuhkan, menghibur yang berduka, membela kebenaran, dan meneguhkan yang lemah.
  • Yesus mengajak kita untuk menjalankan tugas perutusan dengan kesederhanaan dan kepercayaan penuh kepada Allah, tanpa terlalu mengandalkan kekuatan atau jaminan duniawi.
  • Jika perutusan kita membuahkan hasil, kita diajak untuk tetap ren-dah hati dan memuliakan Tuhan. Jika mengalami penolakan, kita tidak perlu putus asa, sebab kesetiaan pada tugas lebih penting dari-pada keberhasilan
  • Doa Yesus agar Bapa mengirim pekerja bagi tuaian yang melimpah menemukan jawabannya dalam diri kita. Kitalah para pekerja yang diutus Tuhan hari ini.

DOA PERMOHONAN

Pemandu mengajak peserta berdoa secara spontan. Setelah itu, pemandu mengakhirinya dengan mengajak peserta bersama-sama mendoakan Bapa Kami.

 

RENCANA KEGIATAN ATAU AKSI

Pemandu mengajak peserta melakukan aksi untuk mewujudkan tugas per-utusan mereka sebagai orang beriman, misalnya saja:

  • Menyadari diri sebagai murid yang diutus: Peserta diajak menegas-kan secara pribadi, “Aku juga diutus oleh Yesus,” lalu menyebutkan satu lingkungan nyata tempat perutusan itu dijalani (keluarga, tem-pat kerja, kampus, lingkungan, atau komunitas).
  • Menyebutkan satu tindakan perutusan sederhana: Setiap peserta me-nyebutkan satu aksi konkret untuk dilakukan selama satu minggu, misalnya membantu orang yang kesulitan, menghibur yang berduka, bersikap jujur dan adil, atau menjadi pendamai ketika terjadi
  • Melatih kesederhanaan dan kepercayaan pada Tuhan: Peserta diajak membatasi diri dari sikap mengandalkan kenyamanan, gengsi, atau keuntungan pribadi, dan belajar mengandalkan Tuhan dalam tugas kecil yang dijalani.
  • Berani menghadapi penerimaan dan penolakan: Peserta diingatkan bahwa perutusan tidak selalu mudah. Jika diterima, bersyukurlah. Namun, jika ditolak, hendaknya mereka tetap setia dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
  • Berdoa setiap hari: Setiap hari, peserta diajak berdoa singkat untuk memohon keberanian, kerendahan hati, dan kesetiaan dalam men-jalankan

Aksi ini mengajak peserta bergerak keluar, seperti para murid, agar iman tidak berhenti pada pertemuan, tetapi menjadi kesaksian hidup yang menghadirkan Kerajaan Surga dalam keseharian.

 

PENUTUP

Pengumuman

 

Doa Penutup

Allah Bapa yang Mahakuasa dan Mahakasih, kami bersyukur atas sabda-Mu yang telah kami dengarkan tentang panggilan dan peng-utusan para murid. Engkau memanggil kami, memberi kuasa, dan meng-utus kami untuk mewartakan Kerajaan Surga, serta menghadirkan kasih dan pemulihan bagi sesama. Kuatkanlah kami agar berani melaksanakan perutusan itu dengan sederhana, tanpa pamrih, dan penuh kepercayaan kepada penyelenggaraan-Mu, baik saat kami diterima maupun ditolak. Utuslah kami menjadi tanda harapan di tengah dunia. Demi Kristus, Tu-han dan Pengantara kami. Amin.

Lagu Penutup

 

Pertemuan 3 PENGAJARAN YESUS TENTANG PERSAUDARAAN DALAM IMAN

(Matius 18:15-20)

 

Tujuan: Agar peserta makin menyadari pentingnya membangun per-saudaraan sejati dalam Kristus dengan saling menegur, mengampuni, dan merangkul satu sama lain seturut ajaran Yesus demi menjaga kesatuan umat beriman.

Gagasan Pokok: Pertemuan ini mengajak kita untuk mendengarkan ajaran Yesus, guru yang penuh kuasa, tentang bagaimana menjaga dan merawat komunitas kristiani yang telah dibentuk oleh-Nya. Komunitas ini tentu tidak lepas dari pelbagai masalah, baik eksternal maupun inter-nal. Ketika terjadi persoalan internal dalam komunitas kristiani, Yesus mengajak kita bersikap bijak dan penuh kasih dalam menyikapi persoal-an tersebut. Ia mengajarkan kepada kita langkah-langkah yang perlu kita usahakan ketika ada saudara kita yang berbuat dosa atau bersikap kurang baik. Di balik langkah-langkah tersebut ada semangat kepedulian dan ka-sih yang menyelamatkan sesama. Semangat itu harus kita miliki sebagai anggota komunitas kristiani. Pertemuan ini membantu kita untuk mere-fleksikan pengalaman hidup berkomunitas kita sebagai pengikut Kristus, dan menyadarkan kepada kita pentingnya membangun persaudaraan se-jati dalam Kristus dengan saling menegur, mengampuni, dan merangkul satu sama lain seturut ajaran Yesus, sang Guru.

 

DOA MOHON KEHADIRAN TUHAN

Lagu Pembuka

Tanda Salib dan Salam Kata Pengantar

Saudara-saudari terkasih, sebagai umat beriman, kita dipanggil untuk ambil bagian dalam tugas perutusan Yesus, baik melalui pelayan-an, karya kerasulan, maupun kesaksian hidup sehari-hari. Namun, se-mangat melayani ke luar perlu diimbangi dengan kepedulian untuk men-jaga kesatuan dan merawat relasi di dalam Gereja sendiri. Tidak jarang

dalam hidup menggereja muncul gesekan, perbedaan pendapat, bahkan pertikaian yang mengancam persaudaraan dan kesatuan. Dalam perte-muan ketiga ini, kita akan mendalami ajaran Yesus tentang bagaimana menyikapi saudara seiman yang berbuat salah atau berbuat dosa. Yesus menekankan relasi kasih serta kesabaran dalam memulihkan saudara seiman yang berbuat dosa, bukan dengan menghukum atau malah me-nyingkirkannya. Sebagaimana Yesus senantiasa hadir serta menjaga ke-utuhan dan kesatuan umat, kita diajak untuk mengusahakan keutuhan dan kesatuan itu dengan menegur dan mengampuni saudara kita yang bersalah serta merangkulnya kembali dalam komunitas dengan penuh kasih persaudaraan.

Doa Pembuka

Allah Bapa yang Mahakasih, Engkau memanggil kami menjadi satu keluarga dalam iman. Saat ini, kami berhimpun di hadirat-Mu. Eng-kau menilik kedalaman hati kami masing-masing saat kami berinteraksi di antara sesama umat-Mu. Di tengah kelemahan dan keterbatasan kami, Engkau mengajarkan kepada kami melalui Putra-Mu terkasih hukum kasih-Mu, kepedulian, dan pengampunan yang menyelamatkan. Buka-lah hati dan pikiran kami, agar melalui sabda-Mu hari ini, kami makin mampu membangun persaudaraan sejati dalam Gereja-Mu. Apabila ada saudara kami yang jatuh dalam kelemahannya, tuntunlah kami dengan Roh Kudus-Mu, agar kami dimampukan untuk menegurnya dalam ka-sih persaudaraan dan menuntunnya kembali kepada-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

PEMBACAAN TEKS KITAB SUCI

Pemandu atau salah satu peserta membacakan Matius 18:15-20 dengan jelas, lantang, dan tidak tergesa-gesa, sementara yang lain mendengarkan dengan saksama. Setelah itu, peserta diberi kesempatan untuk membaca sendiri teks Kitab Suci tersebut.

Matius 18:15-20

15“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan engkau, engkau telah mendapatnya kembali. 16Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak

disangsikan. 17Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. 18Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa pun yang kamu ikat di bumi ini akan terikat di surga dan apa pun yang kamu le-paskan di bumi akan terlepas di surga. 19Aku berkata lagi kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di bumi ini sepakat tentang semuanya itu dan memintanya, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. 20Sebab, di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

MENDALAMI TEKS KITAB SUCI

Pertanyaan Pendalaman

Pemandu mengajak peserta mendalami Matius 18:15-20 dengan panduan pertanyaan berikut. Para peserta diminta untuk menjawab dan mendis-kusikan pertanyaan-pertanyaan ini:

  1. Apa masalah yang hendak diatasi Yesus melalui ajaran-Nya dalam Matius 18:15-20? Lih. ay. 15.
  2. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah yang diajarkan Yesus untuk menegur saudara yang berbuat dosa! Lih. ay. 15-17.
  3. Selain langkah-langkah yang Yesus ajarkan dalam menegur saudara yang berdosa, sebutkan tiga pernyataan Yesus selanjutnya dan apa kaitannya dengan langkah-langkah sebelumnya? Lih. ay. 18-20.
  4. Mengapa Yesus menekankan pendekatan bertahap dan penuh kasih, bukan hukuman?

Penjelasan Singkat dari Pemandu tentang Matius 18:15-20

  • Posisi teks dalam Injil Matius: Matius 18:15-20 merupakan bagian dari kumpulan pengajaran Yesus yang keempat (Mat. 18:1-35). Dalam kumpulan pengajaran ini, Yesus menyampaikan ajaran-Nya un-tuk membina, merawat, dan menjaga kesatuan komunitas kristiani dengan bersikap rendah hati (Mat. 18:1-5), saling menjaga dan tidak menyesatkan yang lain (Mat. 18:6-11), berusaha mencari yang terse-sat (Mat. 18:11-14) dan menuntunnya pada jalan keselamatan (Mat. 18:15-20), serta menganugerahkan pengampunan tanpa batas (Mat. 18:21-35).
  • Situasi komunitas pengikut Kristus: Disadari bahwa dalam ko-munitas kristiani tidak jarang hadir orang-orang yang berbuat salah dan jatuh ke dalam Mereka hidup dalam kedosaan mereka dan mendatangkan kesusahan bagi saudara-saudari yang lain. Berhadap-an dengan situasi tersebut, Yesus mengajarkan para murid-Nya un-tuk peduli dan mencari yang tersesat, serta menuntun mereka untuk kembali pada jalan hidup yang benar di hadapan Tuhan. Yesus meng-ajarkan kita bagaimana menegur saudara kita yang berbuat dosa de-ngan penuh kasih persaudaraan agar ia juga diselamatkan.
  • Langkah-langkah teguran menurut Yesus:

Langkah pertama: Menegur di bawah empat mata. Artinya, salah seorang anggota komunitas hendaknya mengajak orang yang ber-dosa itu bicara baik-baik secara pribadi. Jelaskan bahwa perbuatan yang dilakukannya itu merupakan suatu dosa. Seberat apa pun dosa yang dilakukannya, kita diminta untuk melakukan terlebih dahulu pendekatan personal dari hati ke hati agar dia bertobat.

Langkah kedua: Membawa seorang atau dua orang sebagai saksi. Pada tahap ini, beberapa orang turut dilibatkan untuk menyadarkan saudara yang berdosa. Dengan kehadiran mereka, diharapkan orang itu sadar bahwa perbuatan yang dilakukannya memang secara ob-jektif salah.

Langkah ketiga: Menyampaikan persoalan kepada jemaat. Kalau langkah pertama dan kedua tidak berhasil, perkara ini hendaknya kemudian ditangani oleh orang-orang tertentu yang ditugaskan oleh komunitas kristiani. Sikap dan keputusan yang mereka ambil secara resmi membawa nama komunitas. Pembicaraan tetap dilakukan di kalangan pihak-pihak yang berkepentingan saja, sehingga jangan dibayangkan terbuka untuk umum dan menjadi tontonan banyak orang.

Langkah keempat: Memandang orang itu sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Ini bukan ajakan agar seluruh anggota komunitas memusuhi, mengucilkan, atau menying-kirkan orang itu. Usaha-usaha untuk menyadarkan orang berdosa itu kiranya sudah cukup. Tugas untuk menyadarkan orang itu sekarang diambil alih oleh Bapa sendiri, yang dengan satu dan lain cara akan berupaya mendekati dan mengembalikan anak-Nya yang hilang itu.

  • Tiga pernyataan Yesus berkaitan dengan langkah-langkah tersebut:

Apa pun yang kamu ikat di bumi ini akan terikat di surga dan apa pun yang kamu lepaskan di bumi akan terlepas di surga: Komunitas didorong untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mere-ka. Ketika ada saudara yang berdosa, komunitas dianjurkan untuk menegur, menasihati, dan membawanya kembali. Jika usaha itu ber-hasil, komunitas berkuasa memberikan pengampunan kepada orang itu dan menyambut kedatangannya kembali.

Jika dua orang dari antara kamu di bumi ini sepakat tentang semua-nya itu dan memintanya, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga: Dalam kaitan dengan saudara yang berdosa, doa yang dipanjatkan komunitas untuk saudara tersebut pasti akan didengarkan dan dijawab oleh Bapa di surga. Anugerah pertobatan dan pengampunan sungguh akan tercurah kepada saudara itu.

Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka: Tuhan senantiasa hadir dan menyertai usaha komunitas, terutama dalam menuntun kembali saudara yang berdosa. Komunitas tidak berusaha sendirian, sebab Yesus bersama mereka.

  • Persaudaraan dalam iman: Sebagaimana Yesus hadir untuk me-nyelamatkan kita, Yesus menghendaki kita juga memiliki semangat yang sama, yakni berusaha menyelamatkan saudara-saudari kita yang tersesat atau berdosa dengan teguran penuh kasih persauda-raan, bukan dengan hukuman.

SHARING IMAN

Pemandu mengajak peserta berbagi pengalaman hidup. Sharing tidak bo-leh menjadi bahan diskusi atau debat. Pertanyaan-pertanyaan sebagai ba-han sharing:

  1. Dalam lingkungan Gereja, bagaimana sikap Anda selama ini ketika Anda mengetahui bahwa seorang saudara dalam komunitas melaku-kan perbuatan yang salah atau berdosa? Apakah Anda membiarkan-nya? Ataukah Anda membicarakannya dengan yang lain di belakang? Ataukah Anda berusaha menegur dan menasihatinya dalam kasih persaudaraan yang menyelamatkan?
  2. Selama ini, bagaimana pengalaman Anda dalam menegur dan mena-sihati sesama saudara yang berdosa? Apa yang Anda rasakan? Kesu-litan-kesulitan apa yang Anda hadapi?
  3. Apa yang Anda alami ketika saudara Anda yang berdosa itu bertobat, memperbaiki kesalahannya, serta kemudian banyak berbuat kasih kepada sesama?

PENEGUHAN DARI PEMANDU

Pemandu menyampaikan peneguhan berdasarkan Matius 18:15-20.

Saudara-saudari terkasih, setelah kita mendalami Matius 18:15-20 dan saling membagikan pemahaman kita, marilah kita menegaskan beberapa pokok penting dari pengajaran Yesus ini, agar sabda Tuhan sungguh berakar dan berbuah dalam kehidupan kita bersama:

  • Persaudaraan harus dirawat dengan kepedulian dan kasih. Dalam komunitas kristiani, bisa saja kita menemui atau melihat saudara-saudari kita yang berbuat salah atau berdosa, entah dengan sengaja atau tidak sengaja. Melihat realitas demikian, kita tidak boleh diam saja membiarkan saudara kita jatuh dalam Yesus meng-hendaki agar kita berusaha menyelamatkannya dengan menegur dan menasihatinya dalam kasih persaudaraan, agar saudara kita itu ber-tobat dan diselamatkan oleh Allah.
  • Yesus mengajarkan empat langkah penyadaran yang penuh kebijak-sanaan. Tujuannya bukan menghukum, melainkan
  • Persaudaraan harus dipulihkan. Saudara yang berdosa tetaplah saudara. Ia tidak boleh disingkirkan, tidak boleh dikeluarkan dari komunitas, tetapi hendaknya dirangkul agar kembali dalam komuni-tas Bapa menghendaki agar tidak satu pun dari anak-anak-Nya hilang.
  • Yesus menegaskan bahwa Ia menyertai kita dalam usaha kita me-nyelamatkan saudara-saudari yang tersesat. Yesus sendiri hadir dan bekerja di tengah-tengah kita.

DOA PERMOHONAN

Pemandu mengajak peserta berdoa secara spontan. Setelah itu, pemandu mengakhirinya dengan mengajak peserta bersama-sama mendoakan Bapa Kami.

 

RENCANA KEGIATAN ATAU AKSI

Pemandu mengajak peserta melakukan aksi untuk mewujudkan persauda-raan dalam iman. Beberapa contoh aksi yang bisa dilakukan:

  • Peserta diajak meluangkan waktu 3-5 menit di akhir hari untuk melakukan introspeksi diri atas perjalanan hidup hari itu.
  • Peserta diajak untuk berdoa bersama bagi pertobatan sesama sauda-
  • Peserta diajak untuk belajar menegur dengan bijak sesamanya yang melakukan kesalahan.

PENUTUP

Pengumuman

Doa Penutup

Allah Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas sabda-Mu yang telah kami renungkan. Kuatkanlah kami agar mampu menjadi pem-bawa damai dan penjaga persaudaraan di tengah Gereja dan masyarakat. Bantulah kami agar tidak mudah menghakimi, tetapi berani mengasihi, menyelamatkan, dan mengampuni. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

Lagu Penutup

 

Pertemuan 4 PENGAJARAN YESUS TENTANG

HIDUP YANG KEKAL

(Matius 25:31-46)

 

Tujuan: Agar peserta makin menyadari bahwa hidup yang kekal merupa-kan anugerah Allah kepada mereka yang berbelaskasihan, dengan meng-hayati iman melalui perhatian dan pelayanan nyata kepada sesama yang membutuhkan.

Gagasan Pokok: Pertemuan ini mengajak kita untuk mendengarkan ajaran Yesus, guru yang penuh kuasa, tentang bagaimana memperoleh kehidupan kekal dalam Kerajaan Surga. Hidup yang kekal merupakan cita-cita, harapan, dan kerinduan semua orang. Kita semua ingin masuk surga. Gambaran tentang parousia dalam Mat. 25:31-46 menunjukkan bahwa mereka yang berbelaskasihan terhadap orang-orang yang miskin, menderita, terasing, dan sendirian dibenarkan dan diperkenankan masuk ke dalam hidup yang kekal. Sebaliknya, mereka yang tidak menunjukkan dan tidak mewujudkan belas kasihan secara nyata kepada sesamanya yang menderita akan dilemparkan ke dalam tempat siksaan yang kekal.

 

DOA MOHON KEHADIRAN TUHAN

Lagu Pembuka

Tanda Salib dan Salam Kata Pengantar

Saudara-saudari terkasih, kehidupan kekal dalam Kerajaan Sur-ga merupakan harapan dan kerinduan setiap orang beriman. Kita semua ingin masuk surga. Namun, sebelum itu terjadi, kita akan berhadapan dengan penghakiman terakhir. Pada saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan, Yesus akan menghakimi semua orang berdasarkan tindakan kasih yang dilakukannya terhadap sesama. Kehidupan kekal ternyata merupakan anugerah kasih Allah kepada mereka yang berbelaskasihan terhadap sesamanya yang paling hina dan yang paling membutuhkan uluran tangan. Yesus menegaskan bahwa sikap kita terhadap orang-orang kecil, miskin, menderita, dan tersingkirkan merupakan sikap terhadap

Tuhan sendiri. Dengan melayani mereka, kita melayani Tuhan. Dengan mengabaikan mereka, kita mengabaikan Tuhan.

Doa Pembuka

Allah Bapa yang Maharahim, kami bersyukur atas kasih yang Engkau limpahkan kepada kami, terutama atas penebusan kami oleh Pu-tra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Engkau memanggil kami untuk am-bil bagian dalam kehidupan kekal bersama-Mu. Bukalah hati kami agar mampu mengenali kehadiran-Mu dalam diri sesama yang kecil, miskin, dan menderita. Ajarilah kami untuk melihat sesama dengan mata kasih-Mu, dan untuk senantiasa melayani sesama yang membutuhkan. Berilah kami semangat kerendahan hati, sehingga kami mampu menganggap orang lain lebih utama daripada diri kami sendiri. Semoga melalui perte-muan hari ini, kami makin dimampukan untuk hidup dalam kasih, dan berbelaskasihan seturut kehendak-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengan-tara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

PEMBACAAN TEKS KITAB SUCI

Pemandu atau salah satu peserta membacakan Matius 25:31-46 dengan jelas, lantang, dan tidak tergesa-gesa, sementara yang lain mendengarkan dengan saksama. Setelah itu, peserta diberi kesempatan untuk membaca sendiri teks Kitab Suci tersebut.

Matius 25:31-46

31“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama Dia, Ia akan bersemayam di atas takhta kemu-liaan-Nya. 32Semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35Sebab, ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku mi-num; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36ke-tika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

37Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia: Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah dise-diakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42Sebab, ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tum-pangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. 44Mereka pun akan menjawab: Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang, atau sakit, atau dalam penjara, dan kami tidak melayani Engkau? 45Ia akan menjawab mereka: Sesung-guhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46Orang-orang ini akan masuk ke tempat hukuman yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

MENDALAMI TEKS KITAB SUCI

Pertanyaan Pendalaman

Pemandu mengajak peserta mendalami Matius 25:31-46 dengan panduan pertanyaan berikut. Para peserta diminta untuk menjawab dan mendis-kusikan pertanyaan-pertanyaan ini:

  1. Bagaimana gambaran kedatangan kembali Anak Manusia dalam ba-caan ini? Lih. ay. 31.
  2. Apa yang akan terjadi pada saat kedatangan kembali Anak Manusia? Lih. ay. 32-33.
  3. Mengapa ada pemisahan atau pengelompokan antara “domba” dan “kambing”? Apa dasar seseorang ditempatkan dalam kelompok “domba” dan yang lain dalam kelompok “kambing”? Lih. ay. 35-40 dan ay. 42-45.
  4. Apa dasar penghakiman yang dilakukan oleh Anak Manusia terhadap manusia? Lih. ay. 40 dan ay. 45.
  5. Apa balasan Anak Manusia terhadap sikap “domba” dan “kambing” dalam teks ini? Lih. ay. 34, 41, dan 46.

Penjelasan Singkat dari Pemandu tentang Matius 25:31-46

  • Posisi teks dalam Injil Matius: Matius 25:31-46 merupakan bagian dari kumpulan pengajaran kelima Yesus yang berisi kotbah tentang akhir zaman (Mat. 23:1 – 25:46). Pengajaran ini disampaikan Yesus di Yerusalem ketika saat-saat akhir bagi-Nya sudah Yesus mula-mula mengecam para ahli Taurat dan orang Farisi, serta mera-tapi Yerusalem. Ia lalu berbicara tentang akhir zaman. Para murid diminta-Nya untuk memiliki sikap waspada, berjaga-jaga, dan siap sedia menyambut kedatangan kembali Anak Manusia yang tidak di-ketahui waktunya. Ketika Anak Manusia datang kembali itulah akan dilangsungkan penghakiman terakhir. Manusia akan dihakimi ber-dasarkan sikap mereka terhadap Anak Manusia, yang terwujud se-cara nyata dalam sikap mereka terhadap sesama yang paling hina dan yang paling membutuhkan.
  • Situasi komunitas pengikut Kristus: Penantian akan kedatangan kembali Anak Manusia hendaknya diwarnai dengan sikap waspada, berjaga-jaga, dan siap sedia, yaitu dengan melaksanakan hukum ka-sih, terutama terhadap mereka yang miskin, kecil, menderita, dan sendirian. Mengaku beriman dan melakukan ritual keagamaan se-mata tidak Iman kepada Tuhan harus diwujudnyatakan dalam perbuatan kasih kepada sesama.
  • Gambaran kedatangan kembali Anak Manusia: Matius 25:31-46 menggambarkan kedatangan kembali Anak Manusia ke dunia seba-gai Raja, sekaligus Hakim yang penuh kuasa. Yang dimaksud Anak Manusia tidak lain adalah Yesus Saat kedatangan Anak Ma-nusia adalah sekaligus saat dilangsungkannya penghakiman terakhir bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Semuanya akan diha-kimi berdasarkan sikap dan tindakan mereka selama hidup. Akan terjadi pemisahan antara orang-orang benar dan mereka yang tidak benar seperti gembala memisahkan domba dan kambingnya.
  • Keputusan Anak Manusia terhadap orang-orang benar: Dalam penghakiman terakhir, dengan penuh kuasa, Anak Manusia langsung mengambil keputusan bagi orang-orang Mereka diperkenan-kan masuk ke dalam Kerajaan Surga yang telah disediakan Bapa. Dasar keputusan tersebut adalah tindakan kasih nyata yang telah mereka lakukan terhadap Anak Manusia, yaitu melalui tindakan ka-sih terhadap sesama, terutama mereka yang paling hina. Yesus ber-sabda, “Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya un-tuk Aku.”
  • Keputusan Anak Manusia terhadap orang-orang yang tidak benar: Terhadap orang-orang yang tidak benar, Anak Manusia juga langsung mengambil keputusan. Mereka diusir dari hadapan-Nya dan dihukum dalam api siksaan kekal. Dasar keputusan itu adalah sikap mereka yang tidak menunjukkan kasih terhadap Anak Manu-sia yang hadir dalam diri orang-orang yang Mereka tidak melaksanakan hukum kasih yang telah diajarkan Yesus. Mereka ti-dak berbelaskasihan, malah bersikap bodoh dan acuh tak acuh terha-dap penderitaan sesama. Yesus bersabda, “Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

SHARING IMAN

Pemandu mengajak peserta untuk berbagi pengalaman hidup. Sharing ti-dak boleh menjadi bahan diskusi atau debat. Pertanyaan-pertanyaan se-bagai bahan sharing:

  1. Siapakah saudara-saudari yang paling hina di sekitar Anda?
  2. Bagaimana sikap Anda selama ini terhadap mereka? Apakah Anda sudah melayani mereka dengan penuh kasih? Ataukah sebaliknya, Anda malah mengabaikan mereka?
  3. Jika Anda pernah mengabaikan, bersikap acuh tak acuh, tidak peduli, atau menutup mata terhadap mereka, mengapa Anda melakukan hal tersebut?
  4. Bagaimana Anda dapat mengatasi hal-hal yang menyebabkan Anda tidak peduli terhadap mereka?
  5. Apa yang Anda alami ketika Anda melayani mereka?

PENEGUHAN DARI PEMANDU

Pemandu menyampaikan peneguhan berdasarkan Matius 25:31-46.

Saudara-saudari terkasih, setelah kita mendalami Matius 25:31-46 dan saling membagikan pemahaman kita, marilah kita menegaskan beberapa pokok penting dari pengajaran Yesus ini, agar sabda Tuhan ti-dak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi sungguh menggerakkan hidup kita:

  • Yesus akan datang kembali sebagai Raja, sekaligus Hakim yang penuh kuasa. Segenap umat manusia akan dihadapkan di hadapan-Nya untuk dihakimi berdasarkan perbuatan mereka selama hidup. Gambaran pemisahan domba dan kambing menegaskan bahwa penghakiman Tuhan itu tegas dan jelas: Tidak setengah-setengah, tidak abu-abu. Pada akhirnya, setiap orang harus berhadapan secara pribadi dengan Tuhan dan mempertanggungjawabkan hidupnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa hidup kita sekarang sedang berja-lan menuju perjumpaan dengan Yesus Kristus, sang Raja dan Hakim yang
  • Dalam penghakiman terakhir, manusia tidak dihakimi berdasarkan keanggotaan kelompok, identitas agama, status sosial, atau pelaksa-naan ritual keagamaan secara lahiriah, tetapi berdasarkan tindakan belas kasihan yang dilakukannya atau tidak dilakukannya terha-dap sesama, terutama terhadap mereka yang paling menderita dan berkekurangan, sebab Yesus hadir dalam diri mereka.
  • Dengan melakukan tindakan belas kasihan terhadap Tuhan yang ha-dir dalam diri orang-orang kecil, miskin, menderita, dan berkeku-rangan, kita akan menerima anugerah belas kasihan Allah yang besar pada saat penghakiman terakhir, yaitu diundang masuk dalam Kera-jaan Surga. Sebaliknya, hukuman kekal telah menanti kalau kita ti-dak memiliki belas kasihan, bersikap acuh tak acuh, dan tidak peduli kepada sesama yang membutuhkan uluran tangan.
  • Kehidupan kekal adalah anugerah Allah bagi mereka yang telah menunjukkan kasih terhadap-Nya dan terhadap sesama. Perbuatan kasih bukanlah usaha untuk mendapatkan “tiket” masuk surga, me-lainkan tanggapan syukur atas kasih Allah yang lebih dahulu diteri-
  • Yesus mengajak kita untuk memeriksa kembali cara kita menghidupi iman kita. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi acuh tak acuh terhadap penderitaan sesama. Jangan sampai kita bangga sebagai orang beriman, tetapi lupa menghadirkan kasih Allah dalam kehi-dupan sehari-hari. Kerajaan Surga bukan hanya realitas masa depan, melainkan juga realitas yang sudah mulai dihadirkan sekarang se-tiap kali kita berbelaskasihan, peduli, dan solider terhadap mereka yang menderita dan berkekurangan. Sabda Tuhan ini meneguhkan kita untuk makin setia menjadi murid-murid-Nya, yang tidak hanya mengenal Dia dengan kata-kata saja, tetapi sungguh menjumpai dan melayani-Nya dalam diri sesama kita.

DOA PERMOHONAN

Pemandu mengajak peserta berdoa secara spontan. Setelah itu, pemandu mengakhirinya dengan mengajak peserta bersama-sama mendoakan Bapa Kami.

 

RENCANA KEGIATAN ATAU AKSI

Pemandu mengajak peserta melakukan aksi untuk mewujudkan kasih ter-hadap mereka yang paling membutuhkan uluran tangan. Beberapa contoh aksi yang bisa dilakukan:

  • Peserta diajak melatih kepekaan hati terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan di sekitar mereka.
  • Peserta diajak berbagi kasih secara nyata dan tulus terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan, yang tertimpa musibah, yang kese-pian, dan sebagainya.

PENUTUP

Pengumuman

 

Doa Penutup

Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas sabda-Mu yang telah kami dengarkan dan kami renungkan bersama hari ini. Teguhkan-lah langkah kami, agar kami mampu menghadirkan kasih dan belas ka-sihan-Mu kepada sesama dalam hidup sehari-hari, terutama mereka yang paling membutuhkan uluran tangan kasih-Mu. Semoga dengan tindakan kasih ini, kami mampu meneladan Putra-Mu, Yesus Kristus, yang telah

terlebih dahulu mengasihi kami dengan tulus dan utuh melalui pengur-banan-Nya di kayu salib. Dialah Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

Lagu Penutup