Mengikuti Yesus dengan Hati yang Tidak Terbagi

(Renungan Rabu, 30 September 2026, Pw. St Hieronimus – Luk 9:57-62)

Dalam kehidupan, ada keputusan yang mudah dibuat karena tidak terlalu banyak risikonya. Tetapi ada juga keputusan yang menuntut keberanian dan kesungguhan. Semakin penting sebuah pilihan, semakin dibutuhkan komitmen untuk menjalaninya.

Dalam Injil hari ini, beberapa orang menyatakan keinginan untuk mengikuti Yesus. Namun, ketika mereka memberikan berbagai alasan—ingin menguburkan ayah, ingin berpamitan dengan keluarga—Yesus memberikan jawaban yang terdengar cukup keras. Bahkan Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Yesus tentu tidak sedang mengatakan bahwa keluarga atau kewajiban hidup tidak penting. Yang ingin ditekankan adalah prioritas dalam mengikuti-Nya. Ada saatnya seseorang harus berani menentukan apa yang menjadi pusat hidupnya. Mengikuti Yesus tidak bisa hanya dilakukan ketika semuanya nyaman dan sesuai dengan keinginan kita.

Sering kali dalam hidup, persoalannya bukan karena tidak mau mengikuti Tuhan, tetapi karena terlalu banyak hal yang membuat hati terbagi. Ingin dekat dengan Tuhan, tetapi juga sulit meninggalkan kebiasaan lama. Ingin melayani, tetapi tetap ingin mencari pengakuan. Ingin menyerahkan diri kepada Tuhan, tetapi masih ingin semuanya berjalan menurut rencana sendiri.

St. Hieronimus memberi teladan tentang kesungguhan dalam mencari dan mencintai Sabda Allah. Ia mengabdikan hidupnya untuk mempelajari Kitab Suci dan menerjemahkannya sehingga Sabda Allah dapat semakin dikenal dan dibaca oleh umat. Baginya, Sabda Tuhan bukan sekadar teks yang dipelajari, tetapi sesuatu yang perlu dihidupi.

Di sinilah pesan Injil menjadi relevan. Mengikuti Yesus berarti berani memberi ruang utama bagi Tuhan dalam hidup. Bukan berarti meninggalkan semua tanggung jawab, tetapi menjalankan semuanya dengan arah yang jelas: Tuhan menjadi pusatnya.

Kadang-kadang kita terlalu banyak menoleh ke belakang. Kita terus memikirkan kegagalan masa lalu, luka lama, keputusan yang sudah lewat, atau hal-hal yang sebenarnya tidak bisa lagi diubah. Akibatnya, langkah ke depan menjadi berat.

Yesus mengajak untuk melihat ke depan. Bukan berarti melupakan masa lalu, tetapi tidak membiarkan masa lalu menguasai masa depan. Belajar dari masa lalu, menyerahkannya kepada Tuhan, lalu melanjutkan perjalanan.

St. Hieronimus mengingatkan kita bahwa mengikuti Tuhan membutuhkan kesungguhan. Bukan sekadar mengatakan, “Saya mau ikut Tuhan,” tetapi sungguh memberi waktu, tenaga, pikiran, dan hati untuk mengenal serta melaksanakan kehendak-Nya.

Mengikuti Yesus berarti terus berjalan ke depan. Belajar dari masa lalu, tetapi jangan hidup di masa lalu.

Pertanyaan Refleksi:

Apa yang saat ini paling sering membuat hati saya terbagi dalam mengikuti Tuhan? Apakah ada sesuatu dari masa lalu yang masih membuat saya sulit melangkah maju? Bagaimana saya dapat memberi tempat yang lebih utama bagi Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?