Masih Ada Kesempatan untuk Berubah

(Renungan Sabtu, 24 Oktober 2026,  Luk 13:1-9)

Pernahkah seseorang berjanji untuk memperbaiki diri, tetapi terus menundanya? Misalnya, ingin lebih sabar, tetapi berkata, “Besok saja mulai.” Ingin memperbaiki hubungan dengan seseorang, tetapi menunggu sampai suasana hati benar-benar siap. Tanpa disadari, kesempatan yang ada hari ini terus ditunda seolah-olah hari esok pasti tersedia.

Dalam Injil hari ini, Yesus menanggapi anggapan bahwa orang yang mengalami musibah pasti lebih berdosa daripada orang lain. Yesus menegaskan bahwa mereka bukanlah orang yang lebih berdosa daripada yang lain. Ia kemudian mengajak semua orang untuk bertobat. Dengan demikian, musibah bukanlah alasan untuk menghakimi orang lain, melainkan pengingat bahwa setiap orang perlu memeriksa dan memperbarui hidupnya sendiri.

Yesus lalu menyampaikan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak menghasilkan buah. Pemilik kebun ingin menebangnya, tetapi pengurus kebun meminta kesempatan satu tahun lagi untuk merawat dan memberinya pupuk. Perumpamaan ini memperlihatkan dua hal: Allah menghendaki agar manusia menghasilkan buah yang baik, tetapi Allah juga sabar dan memberi kesempatan untuk berubah.

Kesabaran Allah bukan berarti kita boleh terus menunda pertobatan. Kesempatan yang diberikan Tuhan merupakan anugerah yang perlu ditanggapi. Bertobat tidak selalu berarti melakukan perubahan besar dalam satu hari. Kadang-kadang, buah pertobatan dimulai dari hal sederhana: berani meminta maaf, belajar mengendalikan kemarahan, berhenti menyebarkan kabar yang belum tentu benar, menyediakan waktu untuk berdoa, atau lebih peduli kepada orang yang membutuhkan.

Pohon ara tidak dituntut menghasilkan buah pohon lain. Ia hanya diharapkan menghasilkan buah sesuai dengan keberadaannya. Demikian pula, Tuhan mengharapkan buah dari kehidupan setiap orang. Kita tidak harus menjadi seperti orang lain, tetapi dipanggil untuk bertumbuh dan menghasilkan kebaikan melalui kehidupan yang dipercayakan kepada kita.

Maka, jangan menganggap kesabaran Tuhan sebagai alasan untuk menunda perubahan. Selama masih diberi kesempatan, masih ada waktu untuk memperbaiki diri dan menghasilkan buah yang baik. Pertanyaannya bukan sekadar berapa lama kita telah hidup, melainkan kebaikan apa yang telah tumbuh melalui kehidupan kita.

Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertumbuh. Jangan sia-siakan kesabaran-Nya; mulailah menghasilkan buah kebaikan hari ini.

Pertanyaan Refleksi:

Perubahan apa yang selama ini terus saya tunda? Buah kebaikan apa yang dapat mulai saya hasilkan hari ini melalui perkataan, sikap, dan tindakan saya?