Kasih yang Setia

(Renungan Jum’at, 14 Agustus 2026 –  Mat. 19:3-12)

Di zaman sekarang, kita mudah tertarik pada sesuatu yang baru. Ketika sesuatu mulai terasa sulit, membosankan, atau tidak sesuai harapan, kita tergoda untuk meninggalkannya dan mencari yang lain. Dalam relasi pun, tantangan terbesar sering kali bukan bagaimana memulai, tetapi bagaimana tetap setia ketika keadaan tidak lagi mudah.

Dalam Injil hari ini (Mat. 19:3-12), orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perceraian. Yesus mengingatkan mereka pada kehendak Allah sejak awal: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Yesus membawa pembicaraan bukan hanya pada soal aturan, tetapi pada makna kasih dan kesetiaan. Perkawinan bukan sekadar ikatan yang dibuat ketika semuanya berjalan baik. Perkawinan adalah panggilan untuk berjalan bersama dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, dalam keadaan mudah maupun sulit.

Kesetiaan tidak berarti bahwa sebuah keluarga tidak pernah mengalami konflik. Justru dalam situasi sulit, kesetiaan diuji. Ada saatnya pasangan harus belajar mendengarkan, meminta maaf, mengampuni, mengalah, dan memulai kembali. Kasih yang dewasa bukan kasih yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan, melainkan kasih yang mau berjuang untuk kebaikan bersama.

Namun, Injil ini juga mengingatkan kita untuk tidak mudah menghakimi keluarga atau pasangan yang sedang mengalami persoalan. Kita tidak selalu mengetahui perjuangan yang sedang mereka hadapi. Gereja dipanggil bukan hanya untuk berbicara tentang kesetiaan, tetapi juga untuk menjadi tempat yang menghadirkan pendampingan, penguatan, dan belas kasih bagi mereka yang sedang terluka.

Pada akhirnya, Yesus mengingatkan bahwa kesetiaan dalam perkawinan berakar pada kasih Allah sendiri. Ketika manusia berjanji untuk saling mencintai dan setia, mereka dipanggil untuk menghadirkan kasih Allah yang tidak mudah menyerah.

Pesan ini sebenarnya juga berlaku bagi semua relasi: persahabatan, keluarga, komunitas, dan pelayanan. Kasih yang sejati tidak hanya hadir ketika semuanya menyenangkan. Kasih diuji justru ketika kita memiliki alasan untuk pergi, tetapi memilih untuk tetap setia dan mencari jalan untuk memperbaiki keadaan.

Pertanyaan Refleksi:
Dalam relasi yang dipercayakan Tuhan kepada saya, apakah saya mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, ataukah saya mau belajar setia, mengampuni, dan memperjuangkan kebaikan bersama?