a Catholic Church
† Sint Unum †
a Catholic Church
Bersukacita Karena Dicintai Tuhan
(Renungan Sabtu, 3 Oktober 2026, Luk 10:17-24)
Setelah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik, biasanya muncul rasa puas. Kita senang ketika usaha kita berhasil, ketika orang lain menghargai pekerjaan kita, atau ketika apa yang kita lakukan membawa hasil. Tidak ada yang salah dengan sukacita seperti itu. Tetapi kalau kebahagiaan kita hanya bergantung pada keberhasilan, kita akan mudah kecewa ketika hasilnya tidak sesuai harapan.
Dalam Injil hari ini, para murid yang diutus oleh Yesus kembali dengan penuh sukacita. Mereka berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Mereka mengalami keberhasilan dalam pelayanan dan merasa kagum dengan apa yang telah terjadi.
Yesus tidak melarang mereka bersukacita. Tetapi Yesus mengarahkan sukacita mereka kepada sesuatu yang lebih penting: “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”
Seolah-olah Yesus berkata: Jangan jadikan keberhasilan sebagai dasar utama sukacitamu. Ingatlah bahwa yang paling berharga adalah relasimu dengan Tuhan.
Hal ini penting dalam kehidupan kita. Kadang-kadang kita merasa berharga ketika berhasil. Kita senang ketika dipuji, ketika pekerjaan kita diakui, ketika pelayanan kita mendapatkan hasil, atau ketika orang lain mengatakan bahwa kita hebat. Tetapi ketika gagal atau tidak diperhatikan, kita mulai merasa bahwa diri kita tidak berarti.
Yesus mengingatkan bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa besar keberhasilan kita. Kita berharga karena dikasihi Tuhan.
Bahkan Yesus kemudian bersukacita dalam Roh Kudus dan bersyukur kepada Bapa. Ia mengatakan bahwa hal-hal Kerajaan Allah dinyatakan kepada orang-orang kecil. Ada sukacita yang lahir bukan dari keberhasilan besar, tetapi dari hati yang sederhana dan mampu menerima karya Tuhan.
Mungkin ini juga yang perlu kita pelajari. Kita boleh bersukacita ketika berhasil, tetapi jangan sampai keberhasilan menjadi sumber utama harga diri. Sebaliknya, ketika mengalami kegagalan, kita tidak perlu merasa bahwa semuanya sudah berakhir.
Ada satu sukacita yang lebih dalam: Tuhan tetap mengasihi kita, baik ketika berhasil maupun ketika gagal.
Karena itu, apa pun yang kita kerjakan hari ini, lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Kalau berhasil, bersyukurlah. Kalau belum berhasil, belajarlah dan tetap berjalan. Jangan biarkan keberhasilan membuat kita sombong, dan jangan biarkan kegagalan membuat kita kehilangan harapan.
Keberhasilan adalah sesuatu yang patut disyukuri. Tetapi kasih Tuhan adalah alasan yang lebih dalam untuk selalu bersukacita.
Pertanyaan Refleksi:
Apa yang biasanya menjadi sumber sukacita saya: keberhasilan, penghargaan orang lain, atau relasi saya dengan Tuhan? Ketika mengalami kegagalan, apakah saya masih mampu menyadari bahwa saya tetap berharga di hadapan Tuhan? Apa yang dapat saya syukuri hari ini, bahkan dalam hal-hal yang sederhana?



