“BERAKAR DALAM DEVOSI, MELAHIRKAN KADER GEREJA DAN BANGSA”

 BAHAN PERTEMUAN  Bulan Kebangsaan

Komisi Kerawam Keuskupan Agung Palembang

Agustus 2026

 

“BERAKAR DALAM DEVOSI, MELAHIRKAN KADER GEREJA DAN BANGSA ”

Tahun Devosional 2026: “Membentuk Pemimpin dari Lutut yang Bertelut”

PENGANTAR

Memasuki Tahun ARDAS IV, yakni Tahun Devosional 2026, Keuskupan Agung Palembang (KAPAL) dipanggil untuk merenungkan kembali kedalaman rohani yang mewujud dalam aksi nyata. Devosi (Latin:Devotio/ Devovere) berarti kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti. Dengan demikian, seluruh devosi yang kita Jalani dengan berbagai bentuknya menjadi ungkapan iman dan penyerahan diri kita kepada Allah. Devosi menjadi jalan bagi kita umat beriman untuk menyatukan diri dan hidup kita dengan Allah yang kita Imani. Kesatuan dengan Allah menjadi hakikat panggilan setiap orang beriman, agar iman menghasilkan buah-buah karya keselamatan Allah yang dapat dibagikan kepada sesama dan dunia ini. Tanpa kesatuan kita dengan Allah di dalam Putera-Nya Yesus, kita tidak akan menghasilkan buah; “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:4-6). Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, mengingatkan kita bahwa devosi yang sejati baik secara pribadi, keluarga, maupun komunitas harus bermuara pada kesalehan hidup, persaudaraan yang erat, dan penolakan terhadap formalitas ritual yang kering (ritualisme). Devosi bukanlah sekadar pelarian rohani dari kerasnya realitas duniawi, melainkan sebuah “pangkalan udara rohani” tempat para murid menimba kekuatan untuk menghasilkan banyak buah dalam seluruh kehadirannya bagi sesama di tengah dunia.

 

Selaras dengan gerak strategis Keuskupan, Tahun Devosional 2026 diletakkan sebagai fondasi kokoh bagi kerja besar Kaderisasi. Kita sadar bahwa tantangan dunia modern mulai dari krisis moral, korupsi, pragmatisme politik, hingga kesenjangan sosial hanya dapat dijawab oleh hadirnya kader-kader yang tangguh dan memiliki kompas moral yang kuat. Tidak cukup kita hanya mengeluh bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Sebagai umat beriman, kita pun tidak boleh berdiam diri terhadap aneka praktek ketidakadilan, korupsi, ketidakjujuran, perendahan martabat manusia, perusakan lingkungan, permusuhan dan kebncian yang setiap saat menjadi pemberitaan serta tontonan di sekitar kita. Dalam situasi tersebut, justru kita para murid Yesus harus berani bertanya diri, bagaimana setiap orang dapat menjadi garam dan terang dunia? Oleh karena itu, dibutuhkan kader-kader umat beriman untuk semakin berani memancarkan penghayatan imannya melalui berbagai kiprah duniawi. Hal ini bukanlah tanggungjawab segelintir orang, melainkan setiap orang beriman perlu menyadari bahwa dirinya Adalah kader-kader Gereja yang semestinya memiliki iman yang Militan, mampu bertindak Relevan sebagai bagian dari Solusi persoalan yang ada dan Unggul dalam Iman, kepribadian serta karya. Di mana tempat melahirkan kader tersebut? Jawabannya adalah di dalam Komunitas umat beriman, mulai dari lingkungan, KBG, Kelompok kategorial, Ormas dan terutama dalam Keluarga yang merupakan Gereja kecil (Ecclesia Domestica).

Keluarga adalah rahim pertama tempat karakter dan iman ditenun. Melalui “lutut yang bertelut” dalam keluarga, anak-anak dan generasi muda tidak hanya belajar berdoa, melainkan dilatih memiliki ketahanan iman (Catholic Identity) dan integritas etis serta kepribadian. Ketika semua itu ditanam sejak dini di keluarga, maka lahirlah kader-kader umat beriman yang memiliki akar dalam (KEKAR=Kaderisasi Akar) yang siap tumbuh menjadi pohon tangguh menghadapi tantangan zaman serta mampu menghasilkan buah lebat bagi Gereja, dunia dan sesama. Ini menjadi cara kita bersama dalam menghayati Devosi.

 

A.  Tujuan Penyusunan Bahan Pertemuan

Buku panduan pertemuan ini disusun dengan tiga tujuan utama:

  1. Membangun Jembatan antara “Altar dan Pasar”: Membantu umat beriman untuk keluar dari dikotomi agama ritual, serta mengintegrasikan devosi doa dengan keterlibatan sosial-kemasyarakatan secara nyata berlandaskan Ajaran Sosial Gereja (ASG).
  2. Menghidupkan Keluarga dan komunitas umat beriman sebagai Pusat Kaderisasi: Memberdayakan semua komunitas umat beriman untuk menjadikan komunitasnya sebagai pendidik pertama yang siap mengkader, mendampingi, dan mengutus setiap orang untuk terlibat lebih luas dalam kehidupan sosial, bermasyarakat serta kehidupan politik.
  3. Mendorong Keterlibatan Publik yang Militan: Membakar semangat kelompok kategorial dan Ormas Katolik agar aktif melahirkan kader-kader profesional, ASN, politisi, dan aktivis yang kompeten, berkarakter, dan berbelas rasa (Compassion, Competence, Character).

B.  Skema Tema 4 Pertemuan

Rangkaian bahan ini dirancang secara sistematis ke dalam 4 Pertemuan yang mengalir dari refleksi bersama di dalam komunitas umat beriman dan keluarga menuju aksi nyata di tengah masyarakat:

  1. Pertemuan 1: Doa sebagai Pondasi Kepemimpinan / Spiritualitas sebagai Kompas Pemimpin. Fokus: Membangun kesadaran bahwa integritas publik lahir dari keintiman pribadi dengan Tuhan di dalam rumah (belajar dari Yesus di Getsemani).
  2. Pertemuan 2: Militansi Bunda Maria (Teladan Kesetiaan dan Ketangguhan). Fokus: Meneladani Maria yang tangguh di kaki salib dan peka di perkawinan Kana, menggunakan metode analisis sosial praktis: Lihat, Nilai, Bertindak (LNB).
  3. Pertemuan 3: Adorasi dan Kepekaan Sosial (Ekaristi dan Bela Rasa). Fokus: Mengubah energi kontemplatif dari Sakramen Mahakudus menjadi gerakan bela rasa nyata kepada sesama yang menderita dan tertindas sesuai Ajaran Sosial Gereja (ASG).
  4. Pertemuan 4: Pengutusan – Devosi yang Berbuah Misi / Dari Altar Menuju Pasar Fokus: Mengutus kader-kader terbaik dari pangkalan iman keluarga untuk aktif mewarnai kebijakan publik, bersinergi dengan sistem pusat data (Talent Pool) Keuskupan.

Buku ini disusun dengan skema yang sederhana dan praktis, sehingga siapapun dapat memanfaatkannya. Setiap orang pun dapat memandu pertemuan menggunakan bahan ini tanpa harus pembekalan khusus. Yang terpenting dari penggunaan bahan pertemuan ini adalah refleksi iman dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, bahan pertemuan ini dapat digunakan dengan tata cara yang lebih leluasa dan disesuaikan dengan situasi serta kondisi.

Bahan ini dapat digunakan dalam pertemuan Lingkungan, Kelompok Basis (KBG), Kelompok Kategorial, Ormas juga Keluarga. Pribadi-pribadi juga dapat menjadikan bahan ini sebagai renungan pribadi untuk makin merefleksikan iman dan penghayatannya dalam hidup seharian.

  1. Output yang Diharapkan (Expected Outcomes)

Melalui pendalaman bahan ini di tingkat Lingkungan, KBG, Kelompok Kategorial, Ormas, keluarga dan pribadi, buah-buah nyata yang diharapkan muncul di antaranya:

  1. Kembalinya Mezbah Doa di Keluarga: Keluarga dan komunitas kembali membiasakan doa bersama, Rosario, dan Angelus, serta meluangkan satu malam khusus bebas rapat/kegiatan (Zero Meeting Night) untuk keluarga.
  2. Aksi Bela Rasa Konkrit: Setiap keluarga dan komunitas umat beriman tergerak melakukan minimal satu tindakan nyata membantu warga yang kesusahan atau terpinggirkan di sekitarnya.
  3. Terbentuknya Pusat Data Talenta (Database Talent Pool): Keluarga maupun semua kelompok Umat beriman memberikan perhatian khusus kepada anggotanya yang memiliki berbagai potensi, mendukung dan meneguhkan anggotanya yang berkarya di berbagai bidang profesi, mendatanya dan membangun jejaring untuk mengembangkan mereka
  4. Meningkatnya Keterlibatan Sosial-Politik: Munculnya keberanian baru di kalangan umat, terutama kaum muda, untuk terlibat aktif dalam berbagai kepengurusan RT/RW, organisasi kemasyarakatan seperti Pemuda Katolik, PMKRI, WKRI, ISKA, FMKI dsb, serta profesi pelayanan publik lainnya dengan membawa identitas moral Katolik yang kuat.

Selamat berproses, merenung, dan bertindak. Semoga melalui Tahun Devosional 2026 ini, dari “lutut yang bertelut” di hadapan Tuhan, lahir para pemimpin tangguh yang berdiri tegak membela Iman dan kemanusiaan. Ingatlah selalu dan jadikan sebagai sebuah prinsip hidup:

“Tanpa Saya, Maka Gereja akan berkurang satu orang. Iman dan pribadi rapuh menjadi sisi yang melemahkan Gereja. Satu orang beriman yang bernyala, kendati dengan terang kecil, sangat berarti di antara kegelapan hidup.”

 Tuhan memberkati usaha kita semua untuk melahirkan kader-kader Gereja dan Bangsa.

 Palembang, 1 Agustus 2026

Moderator Komisi Kerawam Keuskupan Agung Palembang

Agustinus Riyanto, SCJ

 

PERTEMUAN 1:

DOA DAN DEVOSI SEBAGAI PONDASI HIDUP

  • Fokus: Menyadari bahwa sumber dan kekuatan hidup umat beriman berasal dari relasi harian dengan Tuhan melalui doa dan devosi.

·  Doa Pembukaan:

 “Ya Allah Bapa yang Maha Baik, di Tahun Devosional ini, kami datang membawa seluruh anggota keluarga kami ke hadirat-Mu. Kami menyadari bahwa tanpa Engkau, segala usaha kami sia-sia. Utuslah Roh Kudus-Mu menyinari hati kami, agar melalui pertemuan ini, kami para orang tua dimampukan untuk membentuk hati anak-anak kami menjadi pemimpin yang rendah hati namun berani seperti Kristus. Jadikanlah rumah kami sekolah doa, tempat di mana karakter pemimpin sejati ditempa. Amin.”

· Pengantar:

 “Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, seringkali kita sangat bangga jika anak kita jago berpidato, meraih juara kelas, atau sukses dalam karir. Namun, pernahkah kita bertanya: apakah mereka punya waktu untuk ‘berbicara’ dengan Tuhan? Umat beriman tanpa kehidupan doa hidupnya tidak berakar sehingga dengan mudah akan goyah oleh terpaan godaan serta tantangan dunia. Doa, menyatukan secara erat diri kita dengan Kristus yang kita Imani. Tanpa kesatuan kita denganNya, maka kita pun sulit menghasilkan buah-buah Rahmat seperti yang diharapkanNya. Tahun Devosional 2026 mengajak kita semua untuk kembali ke dasar: kekuatan terbesar orang beriman bukanlah pada kedudukan, status, harta dan pangkat, melainkan saat ia bertelut di hadapan Tuhan dan Bersatu erat denganNya.

  • Teks Kitab Suci: Matius 26:36-46 (Yesus berdoa di Getsemani).

36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.”

37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,

38 lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? 41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”

43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat.

44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.

45 Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.

46 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

·  Renungan :

 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita diajak merenungkan sebuah kebenaran fundamental: Integritas publik seorang murid Kristus selalu dilahirkan dari keintiman pribadinya dengan Allah di ruang privat. Melalui teks Matius 26:36-46, kita melihat model kepemimpinan pelayan (servant leadership) yang sempurna dalam diri Yesus. Sebelum menghadapi krisis kosmis terbesar yakni penderitaan salib, Yesus tidak mengandalkan kekuatan ego manusiawi-Nya. Ia memilih pergi ke Taman Getsemani, menekuk lutut-Nya, bersujud, dan bertelut di hadapan Bapa. Getsemani adalah bukti bahwa tindakan besar dan keberanian iman harus selalu didahului oleh penyerahan diri yang radikal melalui doa.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2558 mendefinisikan doa sebagai “pemberian diri Allah dan penyerahan diri manusia.” Doa bukanlah sekadar ucapan bibir atau pelarian rohani dari kerasnya realitas duniawi. Sebagaimana diingatkan oleh Uskup Agung kita, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, devosi yang sejati baik secara pribadi, keluarga, maupun komunitas harus bermuara pada kesalehan hidup dan persaudaraan yang erat. Kita harus dengan tegas menolak formalitas ritual yang kering atau ritualisme. Pujangga Gereja, St. Yohanes Krisostomus, pernah menegaskan: “Doa adalah jaring yang menangkap rahmat Allah; tanpa doa, jiwa kita seperti kota tanpa tembok yang mudah runtuh oleh serangan musuh.” Tanpa pondasi doa yang kokoh, integritas moral kita akan dengan mudah hanyut dan goyah oleh terpaan godaan pragmatisme, suap, ketidakjujuran, dan praktik korupsi saat kita menjalani kehidupan dan terjun di tengah masyarakat.

Di zaman modern yang serba instan dan bising ini, tantangan terbesar kita adalah hilangnya keheningan rohani. Melalui program Kaderisasi Akar (KEKAR), Keuskupan kita ingin mengembalikan fungsi keluarga sebagai “sekolah doa pertama“. Ketika kita melatih anak-anak kita untuk setia berdoa harian, mendaraskan Rosario, atau mendoakan Angelus, kita sebenarnya sedang membangun Catholic Identity (Identitas Katolik) yang militan dalam diri mereka. Disiplin rohani ini akan membentuk ketangguhan mental (resilience) dan kompas moral yang kuat.

Mari kita berkomitmen nyata: hidupkan kembali “Mezbah Doa” di rumah kita. Sediakan satu waktu khusus setidaknya dalam seminggu sebagai Zero Meeting, bebas dari gadget, bebas dari rapat organisasi, hanya untuk duduk

bersama keluarga, membaca Kitab Suci, bertelut, dan bersatu erat dengan Kristus, Pokok Anggur kita yang sejati Yesus memperlihatkan model kepemimpinan pelayan (servant leadership) yang tidak bersandar pada ego manusiawi, melainkan pada kehendak Bapa melalui doa yang intens. Doa di Getsemani adalah bukti bahwa sebelum menghadapi krisis terbesar yaitu penderitaan salib, Yesus memilih untuk bertelut. Hal ini menjadi dasar penting bagi Kaderisasi Akar (KEKAR) yang dicanangkan di KAPAL, di mana keluarga menjadi dasar utama pembentukan iman.

·  Refleksi/ Sharing:

  1. Kebiasaan doa   atau   devosi   apa   yang   paling   menyatukan   dan menguatkan keluarga saya selama ini?
  2. Di tengah kesibukan harian, bagaimana doa membantu saya tetap tenang, jujur, dan berintegritas?

· Langkah Konkrit:

 Menghidupkan kembali doa bersama dalam keluarga/kelompok (minimal 10 menit) dan saling mendoakan satu sama lain.

·   Doa Umat :

 1. Bagi Gereja Semesta dan Keuskupan Agung Palembang:

 Ya Bapa, semoga Tahun Devosional 2026 ini menjadi momentum bagi Gereja-Mu untuk memperbarui semangat doa, sehingga seluruh umat di KBG, Lingkungan, dan Paroki semakin berakar kuat di dalam iman. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 2.    Bagi para Pemimpin Bangsa dan Pemerintahan:

 Ya Bapa, terangilah para pemimpin negara kami dengan hikmat-Mu, agar mereka memerintah dengan keadilan, menjunjung tinggi kebenaran, bebas dari korupsi, dan selalu mengutamakan kepentingan rakyat kecil. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 3.    Bagi para Orang Tua:

 Ya Bapa, berkatilah para orang tua agar tidak jemu-jemu menjadikan rumah tangga mereka sebagai sekolah doa pertama, tempat menyemai benih karakter kepemimpinan Kristen yang rendah hati bagi anak-anak mereka. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 4.    Bagi Anak-anak dan Generasi Muda:

 Ya Bapa, lindungilah anak-anak kami dari pengaruh buruk zaman ini. Bentuklah hati mereka agar memiliki ketangguhan iman dan kebiasaan berserah pada-Mu melalui doa harian. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

5.    Bagi Masyarakat yang Mengalami Krisis Kepercayaan:

 Ya Bapa, pulihkanlah masyarakat kami yang terluka oleh ketidakadilan dan kebohongan publik. Hadirkanlah tokoh-tokoh pembawa damai yang mendasarkan karyanya pada kompas moral rohani yang kuat. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 6.    Bagi Kita Semua di Lingkungan Ini:

 Ya Bapa, mampukanlah kami untuk meruntuhkan keegoisan kami dan berkomitmen saling mendukung dalam membina lingkungan yang penuh persaudaraan dan rajin berdoa. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 Doa Penutup: Didoakan bersama

 

Doa Penyerahan Diri dan Keluarga

Ya Allah Bapa yang Maha Pengasih, Sumber segala hikmat dan kepemimpinan sejati.

Di Tahun Devosional ini, kami bersujud di hadirat-Mu.

Bentuklah hati kami, anak-anak kami, dan seluruh anggota keluarga kami agar menjadi pribadi yang rajin bertelut dalam doa sebelum melangkah bekerja. Sebagaimana Engkau telah mendidik Bunda Maria menjadi pribadi yang peka,

setia, dan militan di bawah kaki salib-Mu, tanamkanlah pula dalam diri kami kepekaan sosial untuk selalu:

Melihat jeritan sesama, Menilai dengan kacamata iman, dan Bertindak dengan kasih yang nyata.

Bebaskanlah keluarga dan kelompok kami dari kesombongan, sikap mementingkan diri sendiri, dan godaan duniawi..

Jadikanlah komunitas kami sebagai sekolah iman yang subur, tempat melahirkan kader-kader Iman dan pelayan publik yang jujur,

tangguh, berintegritas, dan berani membela keadilan, agar Gereja tetap berdiri kokoh sebagai terang dan dunia menjadi lebih baik bagi segala mahkluk.

Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan dan Pemimpin kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.

Amin.

(Bapa Kami… 1x, Salam Maria… 3x, Kemuliaan… 1x)

 

 

 

*****

 

PERTEMUAN 2:

MILITANSI BUNDA MARIA (TELADAN KESETIAAN)

  • Fokus: Belajar dari Bunda Maria tentang ketaatan (Fiducia) dan ketangguhan seorang kader yang militan.

·  Doa Pembukaan:

 “Bunda Maria, Ratu Para Rasul dan Teladan Iman, dampingilah keluarga kami. Engkau adalah Ibu yang mendidik Sang Pemimpin Agung. Berilah kami keberanian untuk selalu berkata ‘Ya’ bagi setiap kehendak Tuhan, sama seperti engkau yang selalu siap sedia, agar diri kami dan anggota keluarga kami rela diutus untuk melayani Gereja dan Bangsa di berbagai bidang kehidupan. Amin.”

·  Pengantar:

 “Sering kali kata ‘militansi’ disalahartikan sebagai kekerasan atau fanatisme buta. Namun, melalui Bunda Maria, kita diajarkan tentang militansi sejati: yaitu kesetiaan iman yang tak tergoyahkan bahkan di bawah kaki salib. Seorang kader Katolik sejati harus memiliki keberanian bersaksi mempertahankan kebenaran, dan keberanian itu dipupuk dari keakraban rohani bersama Bunda Maria.”

  • Teks Kitab Suci: Yohanes 2:1-11 (Perkawinan di Kana).

1 Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ;

2 Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.

3 Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”

4 Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.”

5 Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

6 Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.

7 Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh.

8 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya.

9 Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil mempelai laki-laki,

10 dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.”

11 Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

·  Renungan:

 Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Kata “militansi” di era modern ini sering kali disalahartikan sebagai fanatisme buta, radikalisme, atau tindakan konfrontatif yang agresif. Namun, melalui perikop Yohanes 2:1-11 tentang Perkawinan di Kana, Gereja menampilkan citra militansi sejati dalam diri Bunda Maria: yaitu sebuah militansi kasih yang penuh kepekaan, ketangguhan iman, disiplin, dan tanggung jawab solutif. Maria adalah prototipe kader unggul Katolik yang mempraktikkan metode pastoral Lihat, Nilai, dan Bertindak (LNB) secara sempurna.

Pertama, Maria Melihat dengan mata hati yang peka bahwa tuan pesta sedang berada dalam krisis sosial yang memalukan karena “kekurangan anggur”. Kedua, ia Menilai dengan kacamata iman bahwa putranya, Yesus, adalah satu-satunya jawaban teologis atas krisis kemanusiaan tersebut. Ketiga, ia Bertindak dengan iman yang teguh, melangkah menginstruksikan para pelayan: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu!”. Dalam Ensiklik Redemptoris Mater, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa Maria melangkah maju dalam “ziarah iman.” Keberanian Maria bukanlah untuk menonjolkan diri, melainkan untuk mengarahkan seluruh dunia kepada Kristus. Sesuai ajaran teolog Marian, St. Louis de Montfort, devosi kepada Maria adalah jalan paling aman dan singkat untuk bersatu dengan Kristus, karena Maria selalu mengubah energi devosional menjadi ketaatan yang radikal kepada kehendak Allah.

Di sinilah letak relevansi zaman bagi kita sebagai kader Gereja dan Bangsa. Kita tidak boleh mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang acuh tak acuh, individualis, atau sekadar menjadi penonton pasif yang mengeluh di media sosial tentang kebobrokan dunia. Melalui “lutut yang bertelut” dalam keluarga, kita dipanggil untuk meniru metode Maria dalam mendidik anak. Karakter Compassion (bela rasa) dan Competence (kompetensi) harus ditenun sejak dini di dalam keluarga. Ketika anak-anak kita dilatih untuk peka terhadap kesulitan sesamanya dan berani membawa solusi Kristiani, di sanalah karakter kader Katolik yang unggul secara holistik sedang dilahirkan. Mari kita berkomitmen membuat langkah konkret: sepakati komitmen bersama di rumah agar setiap anggota keluarga secara bergantian memimpin doa, membawa ujud khusus bagi keterlibatan sosial kaum muda di paroki kita.

Refleksi/Sharing:

 Ketangguhan atau nilai hidup apa dari Bunda Maria yang ingin saya wariskan kepada anak-anak saya?

  1. Bagaimana devosi Rosario atau devosi Maria lainnya membantu keluarga kami tetap rukun dan tenang saat menghadapi kesulitan hidup?

· Langkah Konkrit:

 Keluarga bersama anggota keluarga membentuk komitment untuk memimpin doa keluarga secara bergiliran dengan ujud khusus memohon pembentukan karakter anak muda Katolik di paroki agar berani terlibat di masyarakat.

·  Doa Umat :

 1. Bagi Kaum Muda Katolik (OMK):

 Ya Bapa, semoga teladan keberanian Bunda Maria menginspirasi orang muda kami untuk berani mengikrarkan “Ya” terhadap panggilan-Mu menjadi garam dan terang di tengah kehidupan bermasyarakat. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 2.    Bagi Kaum Ibu:

 Ya Bapa, dampingilah para ibu di lingkungan kami agar dengan kelembutan sekaligus ketangguhan hati, mereka dimampukan mendidik anak-anak mereka menjadi kader-kader pelayan yang setia seperti Maria. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 3.    Bagi Para Pemimpin Gereja (Paus, Uskup, Imam):

 Ya Bapa, karuniakanlah hati keibuan Maria kepada para gembala kami agar senantiasa setia menuntun umat dengan penuh kasih dan kesabaran di tengah arus badai dunia modern ini. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 4.    Bagi Keluarga yang Mengalami Keretakan:

 Ya Bapa, melalui perantaraan Bunda Maria, pulihkanlah keluarga-keluarga yang dilanda perselisihan dan keputusasaan agar mereka kembali menemukan kedamaian, kesetiaan, dan semangat pengampunan. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 5.    Bagi Para Pekerja dan Buruh:

 Ya Bapa, berilah kekuatan bagi para pekerja di lingkungan kami agar memiliki ketangguhan iman dan perlindungan dalam mencari nafkah yang jujur demi kesejahteraan keluarga mereka. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

6.    Bagi Kita yang Berkumpul di Sini:

 Ya Bapa, ajarlah kami untuk memiliki kepekaan sosial seperti Maria, agar kami sigap membantu sesama kami yang sedang mengalami kesulitan atau “kekurangan anggur” kehidupan. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 Doa Penutup: didoakan bersama

 

Doa Penyerahan Diri dan Keluarga

Ya Allah Bapa yang Maha Pengasih, Sumber segala hikmat dan kepemimpinan sejati.

Di Tahun Devosional ini, kami bersujud di hadirat-Mu.

Bentuklah hati kami, anak-anak kami, dan seluruh anggota keluarga kami agar menjadi pribadi yang rajin bertelut dalam doa sebelum melangkah bekerja. Sebagaimana Engkau telah mendidik Bunda Maria menjadi pribadi yang peka,

setia, dan militan di bawah kaki salib-Mu, tanamkanlah pula dalam diri kami kepekaan sosial untuk selalu:

Melihat jeritan sesama, Menilai dengan kacamata iman, dan Bertindak dengan kasih yang nyata.

Bebaskanlah keluarga dan kelompok kami dari kesombongan, sikap mementingkan diri sendiri, dan godaan duniawi..

Jadikanlah komunitas kami sebagai sekolah iman yang subur, tempat melahirkan kader-kader Iman dan pelayan publik yang jujur,

tangguh, berintegritas, dan berani membela keadilan, agar Gereja tetap berdiri kokoh sebagai terang dan dunia menjadi lebih baik bagi segala mahkluk.

Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan dan Pemimpin kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.

Amin.

(Bapa Kami… 1x, Salam Maria… 3x, Kemuliaan… 1x)

 

*****

 

PERTEMUAN 3:

DEVOSI DAN KEPEKAAN SOSIAL

  • Fokus: Menemukan wajah Yesus yang nyata dalam Devosi dan dalam diri sesama yang miskin serta menderita.

·  Doa Pembukaan:

 “Tuhan Yesus, kami menyembah-Mu melalui berbagai devosi yang kami jalani. Hadirlah dalam hati kami agar setiap kali kami memandang dan menyembah-Mu, kami juga dimampukan untuk melihat-Mu dalam diri saudara-saudari kami yang miskin dan tersisih. Amin.”

·  Pengantar:

 “Tahun Devosional mengajak kita untuk menyediakan waktu secara khusus menyembah Tuhan melalui berbagai aktifitas devosional. Namun, kesalehan ritual ini tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap realitas sosial di sekitar kita. Jika kita sanggup bersujud di hadapan altar-Nya, kita pun harus sanggup menjulurkan tangan merangkul saudara kita yang lapar dan menderita. Kaderisasi sejati menggabungkan gerakan ‘lutut yang bertelut’ dan ‘tangan yang bekerja’.”

 Teks Kitab Suci: Matius 25:31-40 (Apa yang kamu lakukan untuk saudaraku yang paling hina).

  • “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
  • Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
  • dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-
  • Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
  • Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
  • ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
  • Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
  • Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
  • Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
  • Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

·  Renungan :

 Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Refleksi kita hari ini sampai pada jantung spiritualitas Katolik yang sangat krusial: Kesalehan iman kita harus bersifat sakramental sekaligus sosial. Melalui teks Matius 25:31-40, Tuhan Yesus memberikan sebuah kriteria penghakiman terakhir yang sangat radikal. Yesus secara langsung mengidentifikasi diri-Nya dengan mereka yang paling terhina dan marjinal di dunia ini: yang lapar, yang haus, orang asing, yang telanjang, yang sakit, dan yang dipenjara. Kebenaran biblis ini meruntuhkan dikotomi agama ritual yang memisahkan ibadah di dalam gereja dengan keadilan di luar gereja.

Dalam Ensiklik Deus Caritas Est (Allah adalah Kasih), Paus Benediktus XVI menegaskan: “Ekaristi yang tidak membuahkan aksi kasih yang nyata adalah perayaan yang secara intrinsik terfragmentasi dan tidak lengkap.” Makna terdalam dari Sakramen Mahakudus adalah Kristus yang rela “dipecah-pecah dan dibagikan” demi kehidupan dunia. Oleh karena itu, energi kontemplatif yang kita timba saat bersujud melakukan Adorasi di hadapan Altar harus diubah menjadi daya penggerak sosial yang dahsyat di tengah Pasar dunia. St. Teresa dari Kalkuta merangkum teologi ini dengan sangat indah dalam hidupnya: “Jika kita tidak sanggup melihat Yesus dalam rupa roti Ekaristi saat Adorasi, kita tidak akan pernah sanggup menemukan-Nya dalam rupa tubuh kaum miskin yang kelaparan di jalanan.

Umat Katolik sejati dikuduskan untuk tidak terjebak dalam eksklusivitas kesalehan batin yang egois. Pengalaman mistis bersama Kristus harus melahirkan desakan batin yang kuat untuk menegakkan keadilan, membela kaum tertindas, menyantuni yatim piatu, dan menjaga kelestarian lingkungan hidup yang sedang rusak. Keluarga Kristen harus menjadi “laboratorium pertama” bela rasa sosial (p. 14). Iman tanpa perbuatan nyata adalah iman yang mati. Mari kita wujudkan refleksi ini ke dalam aksi nyata minggu ini: ajak seluruh anggota keluarga kita melakukan “puasa gadget” atau penghematan uang jajan, lalu sisihkan dana tersebut secara konkret untuk mendukung gerakan beasiswa ASAK paroki atau membantu meringankan beban tetangga di lingkungan kita yang sedang mengalami “kekurangan anggur” kehidupan.

·  Refleksi/Sharing:

  1. Bagaimana pengalaman adorasi atau saat hening pribadi memperbarui cara pandang saya terhadap orang-orang yang sulit saya ampuni/sukai?
  2. Aksi bela rasa kecil apa yang bisa kita lakukan bersama anggota keluarga kita minggu ini bagi tetangga yang membutuhkan bantuan?

·  Langkah Konkrit:

 Keluarga menyisihkan sebagian dana (hasil “puasa gadget” atau penghematan uang jajan) untuk didonasikan ke gerakan beasiswa ASAK paroki atau aksi kemanusiaan lingkungan RT setempat.

·  Doa Umat :

 1. Bagi Gerakan Devosional:

 Ya Bapa, semoga adorasi dan devosi kami kepada Sakramen Mahakudus mendorong kami untuk lebih peka dan berani bertindak membela kepentingan kaum marginal dan menderita. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 2.    Bagi Mereka yang Miskin, Sakit, dan Tersingkir:

 Ya Bapa, hiburlah saudara-saudari kami yang tidak berdaya, dan gerakkanlah hati banyak orang, khususnya umat Katolik, untuk menjadi penopang dan pembawa harapan baru bagi mereka. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 3.    Bagi Para Pegiat Kemanusiaan dan Sosial:

 Ya Bapa, berilah kekuatan dan ketabahan bagi mereka yang mengabdikan hidupnya demi keadilan sosial, hak asasi manusia, dan kelestarian lingkungan hidup di wilayah keuskupan kami. Kami mohon…

Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 4.    Bagi Keharmonisan Antar-umat Beragama:

 Ya Bapa, jadikanlah kami pelopor persaudaraan tanpa sekat, meruntuhkan prasangka demi membangun kerja sama yang tulus dengan saudara-saudari kami yang berbeda keyakinan. Kami mohon…

Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 5.    Bagi Anak-anak Terlantar:

 Ya Bapa, tuntunlah anak-anak yang kehilangan hak belajarnya dan kasih sayang orang tua, agar melalui uluran tangan kasih komunitas kami, mereka beroleh masa depan yang layak. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 6.    Bagi Keluarga-keluarga di Lingkungan Kita:

 Ya Bapa, mampukanlah keluarga kami untuk tidak hidup konsumtif, melainkan selalu siap berbagi rezeki dan perhatian kepada sesama tetangga di sekitar kami tanpa membeda-bedakan. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

  • Doa Penutup: didoakan bersama

 

Doa Penyerahan Diri dan Keluarga

Ya Allah Bapa yang Maha Pengasih, Sumber segala hikmat dan kepemimpinan sejati.

Di Tahun Devosional ini, kami bersujud di hadirat-Mu.

Bentuklah hati kami, anak-anak kami, dan seluruh anggota keluarga kami agar menjadi pribadi yang rajin bertelut dalam doa sebelum melangkah bekerja. Sebagaimana Engkau telah mendidik Bunda Maria menjadi pribadi yang peka,

setia, dan militan di bawah kaki salib-Mu, tanamkanlah pula dalam diri kami kepekaan sosial untuk selalu:

Melihat jeritan sesama, Menilai dengan kacamata iman, dan Bertindak dengan kasih yang nyata.

Bebaskanlah keluarga dan kelompok kami dari kesombongan, sikap mementingkan diri sendiri, dan godaan duniawi..

Jadikanlah komunitas kami sebagai sekolah iman yang subur, tempat melahirkan kader-kader Iman dan pelayan publik yang jujur,

tangguh, berintegritas, dan berani membela keadilan, agar Gereja tetap berdiri kokoh sebagai terang dan dunia menjadi lebih baik bagi segala mahkluk.

Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan dan Pemimpin kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.

Amin.

 

(Bapa Kami… 1x, Salam Maria… 3x, Kemuliaan… 1x)

 

****

 

PERTEMUAN 4: PENGUTUSAN: DEVOSI YANG BERBUAH MISI

  • Fokus: Menjadikan keluarga sebagai pangkalan keberangkatan (pangkalan udara rohani) para utusan Kristus ke tengah dunia.

·  Doa Pembukaan:

 “Allah Bapa, Roh Kudus-Mu telah menguatkan para rasul untuk pergi ke ujung bumi. Utuslah kami juga hari ini dari pertemuan lingkungan ini untuk menjadi saksi kasih-Mu di tengah keragaman dan medan tantangan dunia. Berilah kami keberanian untuk membawa nilai-nilai Injil dan kebenaran di mana pun kami berada serta bekerja. Amin.”

·  Pengantar:

 “Tahun Devosional bukanlah waktu untuk kita bersembunyi di dalam kenyamanan gedung gereja. Devosi adalah bahan bakar spiritual untuk menjalani misi. Pada pertemuan penutup ini, kita dipanggil untuk berani melangkah keluar. Anak-anak kita harus dikuatkan sejak di dalam rumah agar ketika mereka melangkah keluar pintu, mereka siap menjadi garam dan terang bagi organisasi masyarakat, sekolah, dan tempat kerja mereka.”

  • Teks Kitab Suci: Lukas 10:1-12 (Yesus mengutus tujuh puluh murid).
  1. Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
  2. Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
  3. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah
  4. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.
  5. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah
  6. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan inggal Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
  7. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
  8. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,
  9. dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
  10. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke alan-jalan raya kota itu dan serukanlah:
  11. Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ni: Kerajaan Allah sudah dekat.
  12. Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota “

·  Renungan:

 Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Kita telah sampai pada muara dan puncak dari seluruh rangkaian permenungan Tahun Devosional 2026, yaitu Pengutusan. Teks Lukas 10:1-12 memperlihatkan Yesus yang mengutus tujuh puluh murid-Nya berdua-dua menuju setiap kota. Kata-kata Yesus sangat realistis sekaligus menantang: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit… Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Teks ini menegaskan bahwa iman kita bukanlah sebuah pelarian untuk bersembunyi di dalam kenyamanan gedung gereja. Devosi bukanlah tujuan akhir, melainkan bahan bakar spiritual yang membakar hati kita untuk menjalankan misi keselamatan di tengah dunia.

Dekret Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem) menyatakan secara doktrinal bahwa tugas khas kaum awam adalah menyusupkan nilai-nilai Injil ke dalam tata dunia duniawi: dalam kebijakan publik, dunia kerja, ekonomi, dan politik. Keluarga Katolik sebagai Ecclesia Domestica harus diposisikan sebagai pangkalan udara rohani. Dari pangkalan inilah, kader-kader terbaik Gereja dipersiapkan, dikuatkan integritas moralnya, lalu diterbangkan dan diutus keluar untuk mewarnai masyarakat . Kita memiliki teladan agung, St. Thomas More, pelindung para politisi dan negarawan, yang memilih dihukum mati demi mempertahankan hati nurani dan hukum Allah di atas perintah penguasa duniawi. Santo Thomas More membuktikan bahwa kader yang lahir dari kebiasaan “bertelut” akan memiliki integritas yang teguh, tidak akan mandul, dan tidak akan mudah luntur identitas moralnya oleh persaingan dunia publik yang keras.

Umat Katolik tidak boleh hanya “jago kandang” di lingkungan internal Altar gereja saja. Dunia yang sedang dirundung krisis moral, ketidakadilan, korupsi, dan kesenjangan sosial ini membutuhkan kehadiran kita sebagai garam dan terang di tengah Pasar kehidupan nyata. Para orang tua harus memiliki keikhlasan dan kerelaan hati jika anak-anak mereka dipanggil menjadi pengurus RT/RW, ASN yang jujur, politisi yang berkarakter, atau aktif dalam ormas Katolik seperti Pemuda Katolik, PMKRI, WKRI, dan ISKA. Sebagai langkah nyata struktural yang diharapkan oleh Keuskupan kita, mari kita berkomitmen hari ini untuk mendata potensi, bakat dan kiprah profesionalisme di berbagai bidang mereka yang ada di keluarga kita, lingkungan, KGB atau di komunitas kelompok kategorial serta Ormas. Data ini akan disinkronkan ke dalam sistem Database Talent Pool Keuskupan, sebagai jejaring nyata untuk

mendukung, memetakan, dan mengutus kader-kader terbaik kita demi terwujudnya bonum commune (kesejahteraan umum) bagi Gereja dan Bangsa.

·  Refleksi/Sharing:

  1. Apakah saya siap dan ikhlas jika kelak anak saya menjadi tokoh publik atau pengurus masyarakat yang sangat sibuk melayani sesama? Dukungan moral apa yang akan saya berikan?
  2. Bagaimana lingkungan kita dapat terus saling mendukung dan menjaga semangat kaderisasi ini agar tidak padam?

·   Langkah Konkrit:

 Mengisi dan menyerahkan Formulir Pendataan Talenta keluarga kepada Ketua Lingkungan untuk dimasukkan ke dalam pusat data besar (Big Data/Talent Pool) kaderisasi Paroki dan Keuskupan.

·         Doa Umat :

 1. Bagi Keberhasilan Program Kaderisasi KAPAL:

 Ya Bapa, berkatilah sinergi Sekretariat Bersama (Sekber) Keuskupan kami agar program kaderisasi teritorial dan kategorial ini berjalan berkesinambungan dan menghasilkan buah berlimpah.

Kami mohon… Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 2.       Bagi Para Profesional Katolik (ASN, TNI, Polri, Medis, Guru):

 Ya Bapa, kuatkanlah iman para profesional Katolik agar senantiasa menjadi saksi keadilan, kejujuran, dan menolak keras segala bentuk penyuapan serta penindasan di dunia kerja mereka. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 3.       Bagi Kader Muda yang Terjun ke Dunia Politik dan Sosial:

 Ya Bapa, lindungilah para kader kami yang berjuang di tengah dunia politik dan organisasi kemasyarakatan agar mereka tetap setia pada Ajaran Sosial Gereja dan memperjuangkan kesejahteraan umum (bonum commune). Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 4.       Bagi Keberlanjutan Regenerasi Kepemimpinan Paroki:

 Ya Bapa, utuslah Roh Kudus-Mu untuk membakar semangat pelayanan dalam diri umat-Mu agar tidak ada lagi krisis kepemimpinan di tingkat lingkungan, stasi, maupun organisasi gereja. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 5.       Bagi Keluarga Katolik sebagai “Ecclesia Domestica”:

Ya Bapa, kuatkanlah keluarga kami sebagai tempat persemaian iman utama yang tangguh, rukun, dan senantiasa menjadi berkat bagi tetangga sekitar. Kami mohon… L. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 6.       Bagi Terlaksananya Komitmen Konkrit Kami:

 Ya Bapa, dampingilah kami agar langkah konkrit pengisian data talenta dan keterlibatan sosial yang telah kami rencanakan dapat kami laksanakan dengan penuh sukacita dan tanggung jawab. Kami mohon…Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

 Doa Penutup: didoakan bersama

 

Doa Penyerahan Diri dan Keluarga

Ya Allah Bapa yang Maha Pengasih, Sumber segala hikmat dan kepemimpinan sejati.

Di Tahun Devosional ini, kami bersujud di hadirat-Mu.

Bentuklah hati kami, anak-anak kami, dan seluruh anggota keluarga kami agar menjadi pribadi yang rajin bertelut dalam doa sebelum melangkah bekerja. Sebagaimana Engkau telah mendidik Bunda Maria menjadi pribadi yang peka,

setia, dan militan di bawah kaki salib-Mu, tanamkanlah pula dalam diri kami kepekaan sosial untuk selalu:

Melihat jeritan sesama, Menilai dengan kacamata iman, dan Bertindak dengan kasih yang nyata.

Bebaskanlah keluarga dan kelompok kami dari kesombongan, sikap mementingkan diri sendiri, dan godaan duniawi..

Jadikanlah komunitas kami sebagai sekolah iman yang subur, tempat melahirkan kader-kader Iman dan pelayan publik yang jujur,

tangguh, berintegritas, dan berani membela keadilan, agar Gereja tetap berdiri kokoh sebagai terang dan dunia menjadi lebih baik bagi segala mahkluk.

Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan dan Pemimpin kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.

Amin.

 

(Bapa Kami… 1x, Salam Maria… 3x, Kemuliaan… 1x)

 

****