a Catholic Church
† Sint Unum †
a Catholic Church
Dipanggil untuk Berjalan Bersama Yesus
(Renungan Rabu, 28 Oktober 2026, Luk 6:12-19)
Dalam sebuah kelompok, tidak semua orang memiliki sifat, kemampuan, dan latar belakang yang sama. Ada yang mudah berbicara, ada yang lebih suka mendengarkan. Ada yang cepat mengambil keputusan, ada yang membutuhkan waktu untuk berpikir. Namun, perbedaan itu tidak selalu menjadi penghalang. Ketika setiap orang bersedia berjalan bersama, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan.
Dalam Injil hari ini, sebelum memilih kedua belas rasul, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa semalam-malaman. Setelah itu, Ia memanggil para murid dan memilih dua belas orang untuk menjadi rasul-Nya, termasuk Simon dan Yudas. Mereka bukanlah orang-orang yang semuanya memiliki latar belakang atau kepribadian yang sama. Namun, Yesus memanggil mereka untuk berjalan bersama, belajar dari-Nya, dan mengambil bagian dalam perutusan-Nya.
Hal yang menarik, Yesus berdoa sebelum menentukan pilihan. Ini menunjukkan bahwa panggilan bukan sekadar keputusan spontan atau pilihan berdasarkan pertimbangan manusiawi semata. Yesus membawa keputusan-Nya ke dalam doa. Ia mencari kehendak Bapa sebelum mempercayakan tugas penting kepada para rasul. Dari sini kita belajar bahwa keputusan-keputusan penting dalam hidup perlu disertai doa, kejernihan hati, dan kesediaan untuk mengikuti kehendak Tuhan.
Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul, juga mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil untuk ambil bagian dalam karya Tuhan. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Ada yang melayani melalui pewartaan, ada yang melalui perhatian kepada orang kecil, ada yang menguatkan sesama melalui kehadiran dan kesetiaannya. Yang terpenting bukan seberapa besar tugas yang dilakukan, melainkan kesediaan untuk menjawab panggilan Tuhan dengan setia.
Setelah memilih para rasul, Yesus turun bersama mereka dan berdiri di tempat yang datar. Banyak orang datang untuk mendengarkan-Nya dan memohon kesembuhan. Para rasul yang dipanggil tidak hanya diajak menikmati kedekatan dengan Yesus, tetapi juga menyaksikan bagaimana Yesus melayani orang-orang yang membutuhkan. Mereka belajar bahwa panggilan bukanlah soal kehormatan atau kedudukan, melainkan kesediaan untuk melayani.
Demikian pula dalam keluarga, pekerjaan, dan komunitas, panggilan Tuhan diwujudkan melalui kesediaan untuk berjalan bersama dan melayani. Perbedaan tidak perlu selalu menjadi alasan untuk menjauh. Kita dapat belajar saling mendengarkan, menghargai kelebihan orang lain, dan membantu ketika ada yang mengalami kesulitan. Sebab, Tuhan tidak memanggil kita untuk berjalan sendirian, melainkan untuk bertumbuh bersama dalam kasih dan perutusan.
Yesus memanggil kita bukan karena kita sudah sempurna, melainkan agar kita berjalan bersama-Nya, bertumbuh dalam kasih, dan menjadi berkat bagi sesama.
Pertanyaan Refleksi:
Apakah saya sungguh membawa keputusan-keputusan penting dalam hidup ke dalam doa? Bagaimana saya dapat menggunakan kemampuan dan kehadiran saya untuk melayani serta menguatkan orang-orang di sekitar saya?


