a Catholic Church
† Sint Unum †
a Catholic Church
Setia dalam Tanggung Jawab
(Renungan Rabu, 21 Oktober 2026, Luk 12:39-48)
Ada perbedaan antara bekerja dengan baik karena diawasi dan bekerja dengan baik karena merasa bertanggung jawab. Ketika atasan hadir, seseorang mungkin bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun, ketika tidak ada yang melihat, apakah ia tetap melakukan tugasnya dengan baik? Di situlah kesetiaan seseorang sebenarnya diuji.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak para murid untuk selalu siap menyambut kedatangan Tuhan. Ia menggambarkan seorang tuan yang mempercayakan rumahnya kepada seorang hamba. Hamba yang setia akan menjalankan tugasnya dengan baik, sekalipun tuannya tidak sedang mengawasi. Sebaliknya, hamba yang menyalahgunakan kepercayaan dan bertindak semaunya akan dimintai pertanggungjawaban.
Yesus juga mengatakan bahwa orang yang menerima banyak akan dituntut banyak. Artinya, setiap kepercayaan selalu disertai tanggung jawab. Semakin besar tugas yang dipercayakan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjalankannya dengan benar. Hal ini berlaku bagi siapa saja: orang tua, pemimpin, guru, pelayan Gereja, maupun setiap orang yang dipercaya untuk melakukan sesuatu.
Kadang-kadang, seseorang lebih sibuk memikirkan hak dan penghargaan yang akan diterimanya daripada tanggung jawab yang harus dijalankannya. Ada pula yang melakukan tugas hanya sebatas memenuhi kewajiban, tanpa sungguh-sungguh memikirkan dampaknya bagi orang lain. Padahal, kesetiaan tidak selalu diukur dari besarnya pekerjaan, melainkan dari ketulusan dan kesungguhan dalam melaksanakannya.
Dalam kehidupan beriman, kita juga menerima banyak kepercayaan dari Tuhan: waktu, kemampuan, kesempatan, relasi, dan berbagai tanggung jawab. Semua itu bukan sekadar milik pribadi, melainkan sesuatu yang perlu dikelola dengan bijaksana. Tuhan tidak meminta setiap orang melakukan hal yang sama, tetapi menghendaki agar setiap orang setia menjalankan bagian yang dipercayakan kepadanya.
Karena itu, menantikan kedatangan Tuhan bukan berarti berhenti menjalani kehidupan sambil menunggu sesuatu yang luar biasa. Justru sebaliknya, kita dipanggil untuk menjalani tugas sehari-hari dengan penuh tanggung jawab, termasuk ketika tidak ada yang memuji atau mengawasi. Kesetiaan sejati terlihat bukan hanya ketika kita diperhatikan, tetapi juga ketika kita tetap melakukan yang benar tanpa harus dilihat orang lain.
Apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita bukan hanya untuk dimiliki, melainkan untuk dijalankan dengan setia dan dipertanggungjawabkan dengan kasih.
Pertanyaan Refleksi:
Kepercayaan dan tanggung jawab apa yang Tuhan berikan kepada saya saat ini? Apakah saya sudah menjalankannya dengan setia, bahkan ketika tidak ada orang yang melihat atau memberikan penghargaan?


