Jangan Kehilangan yang Paling Utama

(Renungan Rabu, 14 Oktober 2026, Luk 11:42-46)

Pernahkah seseorang begitu sibuk mengurus hal-hal kecil sampai lupa pada hal yang sebenarnya paling penting? Misalnya, seseorang sangat teliti mengatur jadwal, merapikan pekerjaan, dan memastikan semua berjalan sesuai aturan, tetapi justru lupa memberi perhatian kepada orang-orang terdekatnya. Semua urusan tampak beres, tetapi ada sesuatu yang penting yang terabaikan.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka sangat teliti menjalankan aturan agama, tetapi mengabaikan keadilan dan kasih kepada Allah. Mereka memperhatikan hal-hal kecil, tetapi kehilangan inti dari kehidupan beriman. Yesus tidak mengatakan bahwa aturan itu tidak penting. Ia mengingatkan bahwa aturan harus menuntun orang kepada kasih, bukan membuat orang melupakan kasih itu sendiri.

Teguran Yesus ini juga menjadi bahan refleksi bagi kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa sangat teliti dalam menjalankan tugas, tetapi kurang sabar terhadap orang lain. Seseorang bisa rajin mengikuti kegiatan rohani, tetapi masih sulit mengampuni. Bahkan, seseorang bisa sangat memahami aturan, tetapi menggunakannya untuk menghakimi orang lain. Ketika hal itu terjadi, sesuatu yang seharusnya membantu kehidupan beriman justru kehilangan maknanya.

Yesus juga menegur para ahli Taurat yang membebani orang lain dengan tuntutan-tuntutan berat, sementara mereka sendiri tidak mau membantu. Teguran ini mengingatkan bahwa iman bukan sekadar memberikan perintah atau menuntut orang lain menjadi baik. Iman juga berarti kesediaan untuk menemani, memahami, dan membantu sesama menjalani kehidupan mereka.

Karena itu, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita menata kembali prioritas. Aturan, tugas, kebiasaan, dan kegiatan rohani tetap penting. Namun, semuanya harus mengantar kita semakin dekat kepada Allah dan semakin peduli kepada sesama. Jangan sampai kita begitu sibuk melakukan hal-hal yang benar, tetapi lupa melakukannya dengan hati yang penuh kasih.

Jangan sampai begitu sibuk menjalankan aturan, kita justru melupakan kasih yang menjadi tujuan utamanya.

Pertanyaan Refleksi:

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah saya lebih sibuk menuntut orang lain mengikuti aturan daripada berusaha memahami dan membantu mereka? Apakah tindakan dan kebiasaan rohani saya sudah membuat saya semakin mengasihi Allah dan sesama?