Siapakah Sesamaku?

(Renungan Senin, 5 Oktober 2026,  Luk 10:25-37)

Kita biasanya lebih mudah peduli kepada orang yang dekat dengan kita. Keluarga, sahabat, rekan kerja, atau orang yang sudah kita kenal. Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak kita kenal? Apalagi kalau orang itu berbeda dari kita, tidak satu kelompok, atau bahkan pernah memiliki hubungan yang kurang baik dengan kita?

Dalam Injil hari ini, seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Siapakah sesamaku?” Yesus kemudian menceritakan perumpamaan tentang seorang yang dirampok dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Ia tergeletak dalam keadaan membutuhkan pertolongan.

Seorang imam melihatnya, tetapi melewatinya. Seorang Lewi juga melihatnya, tetapi melakukan hal yang sama. Kemudian datang seorang Samaria. Ia melihat orang itu, tergerak oleh belas kasihan, lalu mendekat, membalut luka-lukanya, membawanya ke tempat penginapan, dan merawatnya.

Yang menarik, Yesus tidak menjelaskan sesama berdasarkan siapa yang pantas disebut “kelompok kita”. Justru orang Samaria—yang pada zaman itu memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang Yahudi—menjadi contoh orang yang menunjukkan belas kasih.

Dengan demikian, Yesus mengubah pertanyaan. Bukan hanya “Siapakah sesamaku?”, tetapi juga “Apakah saya sudah menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?”

Sering kali kita berpikir bahwa mengasihi sesama berarti berbuat baik kepada orang-orang yang kita sukai. Padahal, kasih Kristiani justru diuji ketika berhadapan dengan orang yang berbeda dari kita.

Ada begitu banyak orang yang mungkin kita jumpai setiap hari yang sedang membutuhkan “orang Samaria” dalam hidup mereka. Tidak selalu dalam bentuk bantuan besar. Mungkin seseorang hanya membutuhkan didengarkan. Ada yang membutuhkan penguatan. Ada yang membutuhkan pertolongan sederhana. Ada yang hanya ingin diperlakukan dengan hormat.

Kadang-kadang kita seperti imam dan orang Lewi dalam kisah itu. Kita melihat, tetapi memilih lewat. Bukan selalu karena tidak peduli. Bisa jadi karena terburu-buru, merasa itu bukan urusan kita, atau berpikir bahwa masih ada orang lain yang akan membantu.

Padahal, belas kasih sering dimulai dari satu hal sederhana: berhenti sejenak dan melihat.

Orang Samaria tidak hanya melihat penderitaan orang itu. Ia membiarkan apa yang dilihatnya menyentuh hati, lalu melakukan sesuatu. Inilah yang membedakan belas kasih dari sekadar rasa kasihan.

Yesus kemudian berkata, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Artinya, kasih bukan hanya sesuatu yang dibicarakan. Kasih harus diwujudkan.

Sesama bukan hanya orang yang dekat, sama dengan kita, atau kita sukai. Sesama adalah siapa pun yang Tuhan tempatkan di hadapan kita dan membutuhkan kasih.

Hari ini, mungkin Tuhan tidak meminta kita melakukan sesuatu yang luar biasa. Mungkin Ia hanya meminta kita berhenti sejenak, melihat, tergerak oleh belas kasih, lalu melakukan sesuatu.

Jangan hanya bertanya, “Siapakah sesamaku?” Jadilah sesama bagi orang yang membutuhkan.

Pertanyaan Refleksi:

Siapa orang di sekitar saya yang mungkin sedang membutuhkan perhatian atau pertolongan? Apakah saya pernah melihat kebutuhan orang lain tetapi memilih untuk “melewati” begitu saja? Apa tindakan sederhana yang dapat saya lakukan hari ini untuk menjadi sesama bagi orang lain?