a Catholic Church
† Sint Unum †
a Catholic Church
Setiap Orang Punya Peran
(Renungan Jumat, 18 September 2026, Luk 8:1-3)
Dalam sebuah kegiatan besar, kita biasanya lebih mudah memperhatikan orang yang berdiri di depan. Kita melihat siapa yang berbicara, siapa yang memimpin, siapa yang tampil di panggung. Tetapi di balik sebuah kegiatan yang berjalan dengan baik, selalu ada banyak orang yang bekerja tanpa banyak terlihat.
Ada yang menyiapkan tempat, mengatur makanan, membersihkan ruangan, mengurus perlengkapan, atau memastikan semuanya berjalan dengan baik. Mereka mungkin tidak disebut namanya, tetapi tanpa mereka, pekerjaan itu tidak akan berjalan.
Hal yang sama kita temukan dalam Injil hari ini. Lukas menceritakan bahwa Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa untuk memberitakan Kerajaan Allah. Kedua belas murid menyertai-Nya. Tetapi ada juga beberapa perempuan yang ikut mendukung pelayanan Yesus.
Lukas bahkan menyebut beberapa nama: Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan banyak perempuan lainnya. Mereka melayani Yesus dan para murid dengan apa yang mereka miliki.
Menariknya, mereka tidak tampil sebagai pewarta utama. Tetapi kehadiran dan dukungan mereka menjadi bagian dari perjalanan pewartaan Yesus.
Dari sini kita belajar bahwa tidak semua orang harus berada di depan untuk menjadi berarti. Ada yang berkhotbah, ada yang mengajar, ada yang memimpin. Tetapi ada juga yang berdoa, mendukung, menyediakan tenaga, memberikan waktu, membantu secara sederhana, atau menjadi orang yang setia hadir ketika dibutuhkan.
Semua memiliki tempat dalam karya Tuhan.
Kadang-kadang kita merasa bahwa apa yang kita lakukan terlalu kecil. “Saya hanya membantu sedikit.” “Saya hanya bisa berdoa.” “Saya tidak punya kemampuan seperti orang lain.”
Tetapi Tuhan tidak hanya melihat besar kecilnya pekerjaan. Tuhan melihat hati yang bersedia memberikan apa yang kita miliki.
Para perempuan dalam Injil memberikan apa yang mereka punya untuk mendukung karya Yesus. Mereka tidak menunggu memiliki sesuatu yang luar biasa. Mereka menggunakan apa yang ada pada mereka.
Hal ini juga berlaku dalam kehidupan kita. Dalam keluarga, komunitas, lingkungan, maupun Gereja, setiap orang mempunyai peran. Tidak selalu harus menjadi orang yang paling terlihat. Kadang-kadang menjadi orang yang setia, dapat diandalkan, dan siap membantu justru merupakan bentuk pelayanan yang sangat berarti.
Yang penting bukan pertanyaan, “Apakah saya terlihat?”, tetapi “Apakah kehadiran saya membawa kebaikan?”
Tuhan mengundang setiap orang untuk mengambil bagian dalam karya-Nya. Tidak semua harus berdiri di depan. Ada yang menjadi suara, ada yang menjadi tangan, ada yang menjadi kaki, dan ada yang menjadi hati yang menopang dalam keheningan.
Di hadapan Tuhan, tidak ada pelayanan yang terlalu kecil jika dilakukan dengan kasih.
Pertanyaan Refleksi:
Apa yang saya miliki—waktu, tenaga, kemampuan, pengalaman, atau perhatian—yang dapat saya persembahkan untuk kebaikan sesama? Apakah saya masih merasa bahwa pelayanan saya terlalu kecil dan tidak berarti?



