a Catholic Church
† Sint Unum †
a Catholic Church
Dikasihi, Maka Mampu Mengasihi
(Renungan Kamis, 17 September 2026, Luk 7:36-50)
Kita sering kali mudah mengingat kesalahan seseorang. Begitu seseorang pernah melakukan kesalahan kepada kita, label itu kadang terus melekat: “Dia memang begitu.” Akibatnya, kita tidak lagi melihat siapa dirinya sekarang, tetapi hanya melihat masa lalunya.
Dalam Injil hari ini, Yesus diundang makan di rumah Simon, seorang Farisi. Di sana datang seorang perempuan yang dikenal sebagai orang berdosa. Ia membawa minyak wangi, berdiri di belakang Yesus, menangis, membasahi kaki-Nya dengan air mata, lalu mengusapnya dengan rambutnya dan meminyakinya.
Simon melihat perempuan itu bukan sebagai seseorang yang sedang datang kepada Tuhan, tetapi sebagai “orang berdosa.” Ia bahkan mempertanyakan dalam hatinya mengapa Yesus membiarkan perempuan itu mendekati-Nya.
Tetapi Yesus melihat sesuatu yang berbeda. Yesus melihat hati yang datang dengan pertobatan dan kasih.
Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan tentang dua orang yang berutang. Yang satu berutang banyak, yang lain sedikit. Ketika keduanya tidak mampu membayar, sang penagih menghapus utang mereka. Yesus kemudian bertanya, siapa yang akan lebih mengasihi?
Jawabannya jelas: orang yang mengalami pengampunan lebih besar.
Di sinilah Yesus memberikan pelajaran penting: orang yang sungguh menyadari bahwa dirinya telah dikasihi dan diampuni akan lebih mudah mengasihi.
Perempuan itu datang kepada Yesus bukan karena ia merasa dirinya sempurna. Justru ia datang karena menyadari kebutuhannya akan belas kasih. Ia tidak banyak berbicara. Tindakannya menunjukkan bahwa ia sungguh menghargai pengampunan yang diterimanya.
Sementara itu, Simon tampaknya tidak menyadari bahwa dirinya juga membutuhkan belas kasih Tuhan. Ia melihat dosa orang lain dengan jelas, tetapi tidak melihat kebutuhan dirinya sendiri.
Kadang-kadang kita juga seperti Simon. Kita mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi lupa bahwa kita sendiri hidup dari pengampunan Tuhan setiap hari.
Kita mungkin berkata, “Saya tidak seperti dia.” Tetapi di hadapan Tuhan, kita semua adalah manusia yang membutuhkan rahmat.
Karena itu, Injil hari ini bukan hanya berbicara tentang pengampunan. Injil ini berbicara tentang cara kita memandang diri sendiri dan orang lain.
Ketika kita sadar bahwa kita juga dikasihi Tuhan meskipun tidak sempurna, kita tidak perlu terlalu cepat menghakimi orang lain. Kita belajar memberi ruang bagi pertobatan. Kita belajar melihat bahwa seseorang bukan hanya masa lalunya, bukan hanya kesalahannya, dan bukan hanya kelemahannya.
Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat.”
Ia datang membawa luka dan masa lalu. Ia pulang membawa pengampunan dan harapan baru.
Semoga pengalaman akan kasih dan pengampunan Tuhan membuat hati kita semakin lembut. Bukan semakin mudah menghakimi, tetapi semakin mampu memahami dan mengampuni.
Sebab ketika kita sadar bahwa kita pun adalah orang yang banyak diampuni, kita akan lebih mudah memberikan pengampunan kepada orang lain.
Kita tidak mengasihi karena orang lain sempurna. Kita mengasihi karena terlebih dahulu kita telah dikasihi Tuhan.
Pertanyaan Refleksi:
Apakah saya sungguh menyadari bahwa saya sendiri hidup karena belas kasih dan pengampunan Tuhan? Apakah saya masih melihat seseorang hanya berdasarkan kesalahan atau masa lalunya, atau saya memberi ruang baginya untuk berubah?



