Bertolaklah ke Tempat yang Lebih Dalam

(Renungan Kamis, 3 September 2026 – Luk. 5:1-11)

Pernahkah kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi hasilnya tetap tidak seperti yang diharapkan? Kita sudah bekerja keras, tetapi seolah-olah tidak ada hasilnya. Pada saat seperti itu, kita mudah merasa lelah dan ingin menyerah.

Dalam Injil hari ini (Luk. 5:1-11), Simon Petrus dan teman-temannya mengalami hal tersebut. Mereka telah bekerja sepanjang malam dan tidak menangkap apa-apa. Mereka sudah berusaha, tetapi hasilnya kosong.

Ketika Yesus meminta Simon untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala, Simon sebenarnya memiliki alasan untuk menolak. Ia adalah seorang nelayan dan tentu tahu bahwa waktu yang mereka lewati bukan saat yang tepat untuk menangkap ikan. Namun Simon berkata, “Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Di situlah terjadi sesuatu yang penting. Simon memilih percaya kepada Yesus, meskipun pengalamannya mengatakan sebaliknya. Dan ketika mereka menebarkan jala, mereka menangkap ikan dalam jumlah besar.

Sabda Yesus, “Bertolaklah ke tempat yang dalam,” juga dapat menjadi undangan bagi kita. Kadang-kadang kita terlalu nyaman berada di tempat yang dangkal. Kita menjalani hidup sekadar rutinitas: berdoa karena kebiasaan, bekerja karena kewajiban, melayani karena tugas, dan menjalani relasi tanpa sungguh-sungguh memberikan hati.

Tuhan mengajak kita untuk masuk lebih dalam: lebih dalam dalam iman, lebih dalam dalam kasih, lebih dalam dalam pelayanan, dan lebih dalam dalam relasi dengan sesama.

Namun, bertolak ke tempat yang lebih dalam juga membutuhkan keberanian. Kita tidak tahu apa yang akan kita temukan. Kita mungkin takut gagal, takut kecewa, atau merasa kemampuan kita tidak cukup. Petrus pun akhirnya menyadari keterbatasannya dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”

Tetapi Yesus tidak meninggalkan Petrus. Ia justru berkata, “Jangan takut. Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.”

Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk memanggil kita. Ia mengetahui kelemahan kita, tetapi tetap mempercayakan tugas kepada kita.

Mungkin hari ini Tuhan juga sedang mengajak kita untuk “bertolak lebih dalam”: memperbaiki hubungan yang mulai renggang, berani mengampuni, kembali mendekat kepada Tuhan, lebih sungguh dalam pelayanan, atau menggunakan kemampuan kita untuk membantu orang lain.

Kita tidak selalu tahu hasilnya. Tetapi seperti Petrus, kita dapat berkata: “Karena Engkau menyuruhnya, aku akan melakukannya.”

Sebab iman bukan berarti kita mengetahui semua hasilnya terlebih dahulu. Iman berarti berani melangkah karena percaya kepada Dia yang memanggil kita.

Semoga kita tidak takut meninggalkan “air yang dangkal”. Kiranya kita berani bertolak ke tempat yang lebih dalam, bukan karena kita merasa kuat, tetapi karena kita percaya bahwa Tuhan yang memanggil juga akan menyertai dan menguatkan kita.

Ketika Tuhan berkata, “Bertolaklah lebih dalam,” jangan hanya melihat keterbatasan kita. Lihatlah Dia yang menyertai kita.

Pertanyaan Refleksi:
Di bagian mana dalam hidup saya Tuhan sedang mengajak saya untuk “bertolak ke tempat yang lebih dalam”? Apakah saya berani melangkah dan mempercayakan hasilnya kepada Tuhan?