a Catholic Church
† Sint Unum †
a Catholic Church
Setelah Melayani, Yesus Pergi Berdoa
(Renungan Rabu, 2 September 2026 – Luk. 4:38-44)
Sering kali kita merasa bahwa semakin banyak yang kita kerjakan, semakin berarti pula hidup kita. Kita sibuk bekerja, melayani, mengurus keluarga, mengikuti kegiatan, dan membantu banyak orang. Semua itu baik. Tetapi ada satu pertanyaan penting: dari mana kita mendapatkan kekuatan untuk terus melayani?
Dalam Injil hari ini (Luk. 4:38-44), kita melihat Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon dan banyak orang sakit yang datang kepada-Nya. Setelah matahari terbenam, banyak orang membawa orang-orang sakit kepada Yesus. Ia melayani mereka satu per satu.
Namun, pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Ketika orang banyak mencari-Nya, Yesus berkata bahwa Ia harus pergi ke tempat-tempat lain juga untuk memberitakan Kerajaan Allah.
Di sini kita melihat sebuah pola hidup Yesus yang sangat indah: Ia melayani karena Ia berakar dalam relasi dengan Bapa. Pelayanan dan doa tidak dipisahkan. Justru doa menjadi sumber kekuatan bagi pelayanan-Nya.
Kadang-kadang kita terjebak dalam kesibukan. Kita merasa tidak punya waktu untuk berdoa karena terlalu banyak yang harus dilakukan. Bahkan dalam pelayanan Gereja pun kita bisa begitu sibuk bekerja untuk Tuhan sampai lupa menyediakan waktu bersama Tuhan.
Padahal, tanpa doa, pelayanan mudah berubah menjadi sekadar aktivitas. Kita bisa tetap melakukan banyak hal, tetapi hati menjadi lelah, mudah kecewa, merasa tidak dihargai, bahkan mulai bertanya, “Mengapa hanya saya yang melakukan semuanya?”
Yesus menunjukkan kepada kita bahwa keheningan dan doa bukanlah pelarian dari tugas, melainkan cara untuk kembali menemukan arah dan kekuatan.
Ada hal lain yang menarik. Setelah mengalami penyembuhan, ibu mertua Simon segera melayani Yesus dan para murid. Kesembuhan yang ia terima tidak berhenti pada dirinya sendiri. Berkat yang diterimanya menjadi kekuatan untuk melayani.
Demikian juga dengan kita. Setiap berkat yang kita terima dari Tuhan bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Kesehatan, waktu, kemampuan, pengalaman, dan kesempatan yang Tuhan berikan dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain.
Karena itu, Injil hari ini mengajak kita menjaga dua hal: kedekatan dengan Tuhan dan kepedulian kepada sesama. Jangan sampai kita begitu sibuk melayani sampai lupa berdoa. Tetapi jangan pula kita begitu sibuk berdoa sampai lupa melayani.
Semoga kita belajar dari Yesus: berdoa untuk mendapatkan kekuatan, lalu melayani untuk membagikan kasih. Sebab pelayanan yang sejati lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan.
Jangan hanya sibuk bekerja untuk Tuhan. Sediakan juga waktu untuk tinggal bersama Tuhan.
Pertanyaan Refleksi:
Apakah kesibukan saya selama ini masih bersumber dari relasi yang dekat dengan Tuhan? Kapan terakhir kali saya sungguh menyediakan waktu hening untuk berada bersama-Nya?



