Ketika Gengsi Mengalahkan Kebenaran

(Renungan Sabtu, 29 Agustus 2026 – Mrk. 6:17-29)

Ada kalanya kita tahu bahwa sesuatu itu salah, tetapi kita tetap melakukannya karena takut kehilangan muka. Kita takut mengecewakan orang lain, takut dianggap lemah, atau takut mengakui kesalahan. Akhirnya, kita mempertahankan keputusan yang keliru hanya demi gengsi.

Injil hari ini (Mrk. 6:17-29) menceritakan kisah Yohanes Pembaptis yang dipenjarakan dan akhirnya dibunuh karena keberaniannya menyuarakan kebenaran. Yohanes menegur Herodes karena mengambil Herodias, istri saudaranya, sebagai istrinya. Teguran itu membuat Herodes tidak nyaman, tetapi ia tetap menyimpan rasa hormat kepada Yohanes dan bahkan senang mendengarkan perkataannya.

Namun, pada pesta ulang tahunnya, Herodes membuat janji di hadapan para tamunya. Ketika permintaan yang buruk diajukan kepadanya, ia sebenarnya memiliki kesempatan untuk berkata tidak. Tetapi ia memilih mempertahankan gengsinya. Ia lebih takut kehilangan muka di depan para tamu daripada melakukan apa yang benar.

Di sinilah kita melihat sebuah ironi: Herodes sebenarnya tahu yang benar, tetapi tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Pengetahuan tentang kebenaran tidak cukup. Kita membutuhkan keberanian untuk memilihnya.

Pengalaman Herodes bisa terjadi dalam kehidupan kita. Kita tahu bahwa berbohong itu salah, tetapi tetap melakukannya agar tidak malu. Kita tahu bahwa gosip dapat melukai orang lain, tetapi ikut menyebarkannya supaya diterima kelompok. Kita tahu harus meminta maaf, tetapi gengsi membuat kita sulit mengucapkan kata sederhana: “Maaf.”

Kadang-kadang yang paling sulit dikalahkan bukan orang lain, melainkan ego kita sendiri.

Sebaliknya, Yohanes Pembaptis menunjukkan keberanian yang berbeda. Ia tidak mencari popularitas. Ia tidak takut kehilangan kedudukan. Yang menjadi prioritasnya adalah kesetiaan kepada kebenaran dan kehendak Allah.

Menjadi murid Kristus berarti belajar memiliki keberanian seperti Yohanes: berani mengatakan yang benar dengan kasih, berani mengakui kesalahan, dan berani memperbaiki keputusan ketika kita menyadari bahwa kita telah memilih jalan yang salah.

Sebab hidup kita tidak ditentukan oleh seberapa baik kita menjaga gengsi, tetapi oleh seberapa setia kita menjaga hati nurani.

Semoga teladan Yohanes Pembaptis menguatkan kita untuk berani memilih kebenaran. Dan semoga kita memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak membiarkan gengsi mengalahkan suara hati.

Lebih baik kehilangan gengsi daripada kehilangan kebenaran.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah ada keputusan dalam hidup saya yang saya pertahankan bukan karena benar, tetapi karena gengsi, takut malu, atau takut kehilangan penilaian orang lain?