Berani Memilih Kebenaran
(Renungan Sabtu, 1 Agustus 2026 -Mat. 14:1-12)
(Peringatan Ulang Tahun Membiara: Rm Petrus Haryanto SCJ (25 tahun) dan Rm Stepanus Sigit Pranoto SCJ (19 tahun))
Tidak semua keputusan yang benar itu mudah. Ada kalanya mengatakan yang benar justru membuat kita kehilangan kenyamanan, bahkan harus menanggung risiko. Namun, kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun tidak disukai banyak orang.
Dalam Injil hari ini (Mat. 14:1-12), kita mendengar kisah tragis tentang kematian Yohanes Pembaptis. Ia dipenjara dan akhirnya dipenggal karena berani menegur Raja Herodes yang hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah. Yohanes tahu bahwa menyampaikan kebenaran bisa membahayakan dirinya, tetapi ia tetap setia pada tugas yang dipercayakan Tuhan.
Sebaliknya, Herodes menjadi gambaran orang yang tidak memiliki keberanian moral. Ia sebenarnya tahu bahwa Yohanes adalah orang benar. Bahkan ia senang mendengarkan perkataannya. Namun, ketika harus memilih antara kebenaran dan menjaga gengsi di depan para tamunya, Herodes memilih mempertahankan harga dirinya. Akibatnya, ia mengambil keputusan yang keliru dan menyesalinya.
Injil ini mengajak kita untuk bertanya: apa yang lebih saya utamakan, kebenaran atau kenyamanan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin tidak menghadapi ancaman seperti Yohanes Pembaptis. Namun, kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan kecil: berani berkata jujur meski merugikan diri sendiri, menolak ikut menyebarkan gosip, tidak melakukan kecurangan, atau tetap membela yang benar meskipun tidak populer.
Menjadi murid Kristus berarti memiliki keberanian seperti Yohanes Pembaptis. Kesetiaan kepada Tuhan tidak diukur dari mudah atau sulitnya jalan yang kita tempuh, tetapi dari kesediaan kita tetap berdiri di pihak kebenaran.
Pertanyaan Refleksi:
Ketika harus memilih antara kebenaran dan kenyamanan, pilihan manakah yang lebih sering saya ambil?