Nama yang Dipanggil

(Renungan Rabu, 22 Juli 2026 – Yoh. 20:1.11-18)

Pernahkah Anda berada di tengah keramaian, lalu tiba-tiba seseorang memanggil nama Anda? Di antara begitu banyak suara, hanya satu panggilan itu yang langsung menarik perhatian. Mengapa? Karena nama yang diucapkan dengan penuh kasih membuat kita merasa dikenal dan berharga.

Itulah yang dialami Maria Magdalena dalam Injil hari ini (Yoh. 20:1.11-18). Setelah kematian Yesus, ia datang ke makam dengan hati yang dipenuhi kesedihan. Ketika melihat makam kosong, ia menangis. Bahkan saat Yesus berdiri di dekatnya, Maria tidak mengenali-Nya. Ia mengira Yesus adalah penjaga taman.

Barulah ketika Yesus memanggilnya, “Maria!”, semuanya berubah. Dalam satu kata itu, Maria mengenali Sang Guru. Air mata berubah menjadi sukacita, keputusasaan berubah menjadi harapan, dan kesedihan berubah menjadi semangat untuk mewartakan kabar gembira. Ia pun menjadi orang pertama yang mengabarkan bahwa Kristus telah bangkit.

Sering kali kita juga seperti Maria. Kesibukan, persoalan hidup, kegagalan, atau kehilangan membuat kita sulit melihat kehadiran Tuhan. Kita merasa Tuhan jauh, padahal Dia berdiri sangat dekat. Yang kita perlukan adalah hati yang mau mendengarkan suara-Nya.

Kabar baiknya, Yesus mengenal kita secara pribadi. Ia tidak memanggil kita dengan sebutan umum, tetapi mengenal nama, pergumulan, luka, dan harapan kita. Di tengah segala kesibukan hidup, Tuhan terus memanggil kita melalui Sabda-Nya, doa, Ekaristi, maupun melalui orang-orang yang hadir di sekitar kita.

Pertanyaannya, apakah kita masih menyediakan waktu untuk mendengarkan suara-Nya?

Pertanyaan Refleksi:
Di tengah berbagai kesibukan dan kekhawatiran, masihkah saya peka mendengar Yesus yang memanggil nama saya dan mengutus saya untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya?