a Catholic Church
† Sint Unum †
a Catholic Church
Allah Mengasihi Kamu
Suatu hari ada seorang bapak yang bekerja sebagai sopir angkutan. Sudah beberapa bulan penghasilannya menurun. Harga kebutuhan rumah tangga semakin naik, sementara anak-anaknya membutuhkan biaya sekolah. Ia mulai merasa lelah, kecewa, bahkan marah kepada Tuhan.
Suatu malam, setelah pulang bekerja, ia duduk sendirian di teras rumah. Dalam hati ia berkata, “Tuhan, apakah Engkau masih peduli kepadaku? Mengapa hidup terasa semakin berat?”
Saat sedang termenung, anak bungsunya datang membawa segelas teh hangat. Dengan polos anak itu berkata, “Pak, jangan sedih ya. Tadi Ibu bilang kita harus selalu percaya Tuhan sayang sama keluarga kita.”
Kalimat sederhana itu membuat sang bapak terdiam. Ia memandang anaknya dan menyadari bahwa meskipun keadaan ekonomi sulit, keluarganya masih sehat, masih bisa berkumpul, masih bisa saling mengasihi. Saat itu ia merasakan bahwa Tuhan ternyata tidak meninggalkannya. Tuhan hadir melalui perhatian sederhana dari keluarganya.
Saudara-saudari terkasih,
Perempuan Samaria dalam Injil hari ini juga sedang mengalami “kehausan” dalam hidupnya. Ia mencari kebahagiaan dan penerimaan, tetapi hatinya tetap kosong. Karena itu Yesus menawarkan “air hidup”, yaitu kasih Allah yang mampu memuaskan dahaga terdalam manusia.
Sering kali kita seperti bapak sopir tadi atau seperti perempuan Samaria. Kita haus akan ketenangan, keamanan, keberhasilan, dan kebahagiaan. Ketika masalah datang bertubi-tubi, kita mulai bertanya, “Apakah Tuhan masih mengasihi saya?”
Padahal kasih Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk mukjizat besar. Kadang kasih-Nya hadir melalui hal-hal sederhana: kesehatan yang masih kita miliki, keluarga yang mendukung, sahabat yang mendengarkan, rezeki yang cukup untuk hari ini, atau kekuatan untuk bangun kembali setelah kegagalan.
Masalahnya, kita sering lebih fokus pada apa yang belum kita miliki daripada mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan.
Yesus berkata kepada perempuan Samaria bahwa barangsiapa minum air yang diberikan-Nya tidak akan haus lagi. Artinya, siapa yang sungguh percaya pada kasih Tuhan akan menemukan kekuatan dan pengharapan, bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginannya.
Hari ini Tuhan juga duduk di “sumur” kehidupan kita. Ia menunggu kita datang dengan segala kelelahan, kekecewaan, dan pergumulan hidup. Lalu Ia berkata dengan lembut:
“Anak-Ku, Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku mengasihimu. Percayalah kepada-Ku.”
Mungkin kita tidak selalu memahami rencana Tuhan. Namun satu hal yang pasti: kasih-Nya tidak pernah berkurang. Bahkan ketika kita merasa sendirian, Tuhan tetap berjalan bersama kita.
Jangan menunggu hidup sempurna untuk percaya bahwa Tuhan mengasihi kita. Justru di tengah keterbatasan dan pergumulan, kasih-Nya sering kali bekerja dengan cara yang paling sederhana dan paling nyata.
Karena kasih Allah bukan hanya untuk orang-orang yang hidupnya baik-baik saja, tetapi terutama bagi mereka yang sedang haus, lelah, dan membutuhkan pengharapan.
“Allah mengasihi kamu, bukan karena hidupmu sempurna, tetapi karena kamu adalah anak-Nya.”



